Zona Nyaman Tak Selalu Nyaman

Sumber foto: Google

Beberapa bulan terakhir ini aku melatih konseliku (orang yang membutuhkan bimbingan dalam menghadapi masalah) untuk meditasi. Dia mengalami sakit lupus ringan yang menyerang kulit dan rambut rontok. Sebelum terkena lupus, dia terkena TB kelenjar yaitu ada beberapa benjolan di leher.

Selidik punya selidik, sebelum terkena TB kelenjar pun, ada pemicu masalah dengan pembantu yang mengadu domba dengan anaknya. Setelah beberapa minggu meditasi, tetap saja perasaannya tidak enak karena belum bisa menerima keadaan sakit Lupus itu. Menurutku, dia ada gangguan pikiran karena berontak dengan kenyataan pahit ini.

Pada umumnya, gejolak rasa atau berontak menerima kenyataan terjadi karena luka batin penolakan dan pengabaian. Ternyata konseliku ini justru pada masa kecil berada di zona nyaman. Belum pernah menghadapi masalah serius dalam hidupnya.

Dari kisah ini, aku bisa menarik kesimpulan bahwa dengan zona nyaman tak selalu nyaman pada akhirnya. Bahkan membuat mental rapuh karena belum teruji. Kalau kita amati, dalam kenyamanan era global sekarang, sangat jarang ditemukan pribadi tangguh.

Berbeda dengan jaman dulu, termasuk pengalamanku justru dalam kondisi terhimpit. Kenyataan pahit adalah obat yang menjadikanku bermental tangguh seperti sekarang. Marilah kita sadari untuk mengasuh anak-anak kita dengan baik. Menanamkan bahwa dalam hidup ada masa up and down.

Tetap semangat ya menjalani hidup dengan segala permasalahannya. Hidup ini terlalu indah untuk disia-siakan. Semangat move on. Tuhan selalu menyertai langkah hidup kita.

The Power of Thinkingđź’–

The Power of Forgivenessđź’–

Wenny Kartika Sari