Yuk, Simak Kisah dari Norwegia, Belajar Menghindari Kesalahpahaman

Yuk, Simak Kisah dari Norwegia, Belajar Menghindari Kesalahpahaman

“Hai, pemburu!” panggil seekor burung kepada seorang pemuda yang sedang membawa senapan di bahunya.

Pemuda itu adalah seorang pemburu yang selalu pergi berburu ke hutan. Setiap tembakannya selalu tepat mengenai sasaran. Hari ini, ia akan pergi ke hutan untuk berburu.

Burung itu bahagia bisa bertemu langsung dengan pemburu. Sejak tadi ia bertengger di dahan untuk menunggunya.

“Ada apa, hai burung?” tanya pemuda itu heran.

“Aku ingin meminta tolong kepadamu, bolehkan?” kata burung.

“Boleh, silahkan. Katakan apa yang kau inginkan,” kata pemuda pemburu.

“Aku adalah induk burung. Aku mempunyai tiga anak. Aku memohon kepadamu janganlah kau menembak mereka,” pinta burung itu.

“Baiklah. Tapi, bagaimana aku bisa tahu kalau yang akan kutembak bukan anak-anakmu?” tanya pemuda pemburu heran.

“Jika kau melihat burung paling cantik. Maka itu adalah anak-anakku,” kata induk burung.

“Baiklah.” Lalu pemuda itu pun berlalu pergi dan mulai berburu.

Induk burung merasa lega, karena sekarang ia sudah tak khawatir lagi melepas anak-anaknya terbang bermain. Tetapi ia juga penasaran apa yang sudah ditembak oleh pemburu itu.

Burung itu pun terbang mencari pemburu dan menemukannya sedang membawa hasil buruannya. Alangkah terkejutnya burung itu, ketika melihat apa yang ada di tangan pemuda pemburu.

“Hai, pemuda pemburu. Bukankah kau sudah berjanji kepadaku untuk tak menembak anak-anakku? Tapi, mengapa kau tidak menepati janjimu,” seru induk burung sambil menangis.

“Aku tidak menembak anak-anakmu. Aku hanya menembak burung-burung jelek di hutan ini,” kata pemburu.

Tangisan induk burung itu semakin keras. Ia menyesal tidak memberi tahu dengan jelas ciri-ciri anaknya. Ia lupa, bahwa apa yang ia nilai bagus dan cantik belum tentu sama dengan apa yang orang lain nilai.

Baginya, anak-anaknya adalah yang tercantik di hutan ini bahkan di dunia ini. Namun, tidak bagi pemuda pemburu.

“Maafkan aku, aku tidak tahu kalau mereka adalah anak-anakmu,” sesal pemuda pemburu.

“Iya. Tidak apa-apa. Tapi, aku memohon kepadamu, berikan anak-anakku. Meskipun kini mereka sudah tak bernyawa lagi,” pinta induk burung.

Pemuda pemburu pun menyerahkan hasil buruannya yang ternyata adalah anak-anak induk burung. Ia pun berlalu pergi dan melanjutkan perburuannya.

***

Terkadang tanpa disadari, kita kerap melakukan hal yang sama seperti induk burung tersebut. Berpikir bahwa info yang disampaikan telah dipahami oleh sang penerima dengan baik, lalu berlalu pergi begitu saja tanpa memastikan kembali.

Hal ini tidak hanya terjadi antara kita dengan orang lain, bahkan bisa jadi antara kita dengan pasangan, orangtua dengan anak, kita dan keluarga juga tetangga.

Karena itu, untuk meminimalisir adanya kesalahpahaman dalam memahami sebuah pesan, hendaknya sampaikanlah secara jelas dan pastikan kembali bahwa sang penerima telah benar-benar mengerti akan apa yang kita maksudkan.

Selamat beraktivitas dan salam sukses.

nubarnulisbareng/walidahariyani

2 comments