Yuk, Jadikan Karantinamu Lebih Bermakna

Yuk, Jadikan Karantinamu Lebih Bermakna

Sahabat, kondisi pandemi ini entah kapan berakhir. Miris rasanya saat mendengar kabar-kabar menyedihkan kondisi terkini sebagai dampak dari pandemi. Kadang saya kesal juga sama orang-orang yang bersikap abai. Menganggap sepele dan tidak mau ikut anjuran pemerintah untuk tetap beraktivitas di rumah.

Bisa jadi untuk sebagian orang tetap beraktivitas di luar rumah adalah pilihan terakhir. Lebih baik tetap berusaha daripada mati kelaparan di rumah, begitu mungkin fikirnya. Untuk golongan yang seperti ini, saya berdoa semoga Allah tetap melindungi kalian dan menjauhkan Corona di mana pun berada.

Yang tak habis fikir adalah ada sebagian orang yang berkumpul hanya sekadar untuk ngobrol biasa atau bahkan mereka malah jalan-jalan ngabuburit bersama temannya. Apa mereka tidak khawatir ya jika si Corona bisa saja menyapa?

Bahkan, saya sempat geregetan saat ada video yang beredar. Seorang yang katanya dokter memberikan penjelasan tentang tidak pentingnya tinggal di rumah. Saat melihat tayangan video tersebut, saya langsung ilfeel kepada orang tersebut. Bukan ilfeel pada penjelasannya tapi sebel dengan gayanya yang sok, menganggap remeh, menyatakan “ga usah ikut aturan pemerintah”, dan yang lebih ngeselin dia ngomong sambil merokok dengan santainya. Tidak mencerminkan seorang dokter sebagaimana santunnya para dokter yang saya kenal.

By the way, saya yakin Allah sudah mengatur dengan sebaik-baiknya. Tentunya ada hikmah dibalik pandemi saat ini. Saat semua orang dianjurkan lebih banyak di rumah, mobilitas kendaraan juga berkurang. Ini memberikan kesempatan kepada bumi untuk beristirahat sejenak dari polusi udara.

Empati dan kepedulian juga terus diasah. Walaupun kegiatan lebih banyak di rumah bukan berarti kita menjadi makhluk individualisme yang hanya mementingkan diri sendiri atau keluarga. Tapi jika ada tetangga yang kondisi ekonominya terpuruk maka selayaknya jika kita mampu menghulurkan bantuan. Jangan sampai kita kenyang sementara tetangga atau saudara kelaparan.

Bagaimana agar masa karantina bermakna?

Kalau saya, mencoba memanfaatkan waktu dengan belajar, belajar, dan belajar. Selama masa WFH saya ikut beberapa seminar maupun pelatihan online. Enaknya, kalau seminar atau pelatihan online bisa nyambi kerja atau nyambi menyusun naskah cerita, menyalurkan hobbi.

Selain itu, mulai pekan kemarin saya dan suami ikut IKTQO (I’tikaf dan Karantina Tahfiz Alqur’an Online) yang diselenggarakan oleh hanya satu lembaga tahfiz. Sepertinya Allah menuntun kami untuk lebih banyak berinteraksi dengan Alquran.

Efek yang sangat terasa setelah hampir satu pekan ikut kegiatan ini adalah kedamaian jiwa dan ringannya badan untuk melakukan ibadah sunah lainnya. Ini juga salah satu cara mencari solusi ruhani, banyak berdialog dengan Sang Khaliq, Pemilik dan pemelihara virus Corona.

Maa syaa Allah, melihat progress peserta lain yang sudah menyetorkan hafalan sebanyak 17 juz lebih dalam waktu satu pekan merupakan cambuk hati tersendiri saat merasakan sulitnya mengulang beberapa ayat tertentu.

Ustaz Nugroho selaku Pimpinan Mitra 50 Karantina Tahfizh Alquran, Ciputat Timur, Tangsel (Penulis buku “Jadikan Rumahmu Rahim Penghafal Quran”) selaku penyelenggara kegiatan ini senantiasa memberikan motivasi kepada kami. Beliau selalu mendoakan agar semua peserta IKTQO Allah SWT izinkan bisa hafal Alquran 30 juz. Menurut Beliau, ini menjadi bukti firman Allah SWT dalam Al Qomar ayat 17, “Walaqod yassarnal Qur’ana lidzikri fahal mimmudzakir”.

Allah SWT mengulangi ayat tersebut hingga 4 kali yakni selain do ayat 17 juga ada di ayat 22, 32 dan 40. Hal ini dimaksudkan untuk meyakinkan hambaNya bahwa Alquran untuk manusia dan Allah berikan kemudahan mempelajari, mengkaji, termasuk menghafalnya.

Allah SWT memberikan jaminan bahwa Alquran itu mudah hafal, bukan pepesan kosong. Namun Allah mempersiapkan Alquran secara utuh mudah dihafal, diantaranya:

  • Banyak ayat yang diulang.
  • Banyak ayat yang mirip.
  • Hampir 80 prosen kosa kata Alquran tersebar di 3 juz awal ( juz 1, 2, dan 3) dan 4 juz akhir ( 30, 29, 28, 27) , sehingga apabila hafal 7 juz ini dan menguasai kosa katanya, insya Allah 23 juz lainnya sangat mudah.
  • Memurojaah hafalan dalam sholat sangat membantu untuk lebih hafal Alquran.

Baarakallahu fiikum. Semoga Allah senantiasa lindungi kami semua dan Allah berikan kekuatan untuk menjaga hafalan sehingga masa karantina ini menjadi lebih bermakna.

Bagaimana dengan cara kalian dalam menjadikan masa karantina lebih bermakna?

rumahmediagrup/wina_elfayyadh