YANG, SIAPA YANG KAU PANGGIL SAYANG?

Antara sadar dan tidak, aku bangun. Mencari-cari sumber suara. Kulihat jam menunjukkan pukul dua pagi. baru 1 jam aku tertidur, rasanya nguantuk banget,. “Yaaang…!” kembali suara itu terdengar lebih jelas. Ku tengok ke kamarku. Barangkali dia memanggilku, mengingat kami tidur terpisah. Si kecil ingin tidur di ruang tamu. Gerah katanyanya. Dan aku harus menemaninya. Terpaksa, ku tinggal Mas Tono tidur sendirian. Kulihat hanya punggung mas Tono. Dia tidur menghadap tembok. Lelap. “Yang … sayang!” kali ini sangat jelas terdengar. Berasal dari Mas Tono. Deg deg plas dan curiga ku intip perlahan. Rupanya Mas Tono mengigau.

“Yang, beberapa pasangan punya panggilan sayang sama pasangannya. Panggilan special gitu. Kaya Mia. Panggilan sayang suaminya Bubu. Mas karman, manggil istrinya Miuw. Kamu manggil aku apa?” “Bunda cantik!” Mas Tono memelukku. “Ngak manggil aku sayang, gitu?” selidikku “Ah itu mah, sudah terlalu pasaran.” Ku lihat raut mukanya. Datar. Tidak nampak sama sekali gelagat kalau dia menyembunyikan sesuatu. “Ayah, main!” si bungsu memberi kode, maksudnya main kuda-kuda an.

Tawa Bahagia tergambar, ketiga anakku bermain di halaman. Mas Tono seperti kambing congek harus nurut semua perintah majikannya. Si bungsu. Pernikahan kami sudah menginjak umur 10 tahun. Selama ini Mas Tono adalah suami idaman bagiku. “Aku ngiri lho sama kamu, Sri. Punya suami yang siaga. Dia gak sungkan mencuci baju anak-anak, melakukan pekerjaan rumah. Ku lihat dia kemarin ngepel lantai, sambil bawa si bungsu. Lha di komplek kita mana ada suami seperti itu? Beruntung kamu, Sri!” aku tersenyum. Mulai dech ibu-ibu arisan saling membicarakan para suami.

“Hati-hati lho Sri, jangan terlalu abai sama suami. Ntar di sambar orang lho!” suatu hari Mbak Narti membisikku. “Jangan terlalu sibuk, utamakan keluarga. Mbak lihat, setiap hari, pagi-pagi buta kamu sudah berangkat kerja, sore dah mau gelap seperti ini baru pulang, anak-anakmu gimana? Sapa yang ngurus?” “Mas Tono, dia mengerti pekerjaanku ya seperti ini, Mba Nar. dia gak apa-apa kok!”

“Air tenang banyak buayanya, Sri.” Kata Teh Elin sambil tertawa. Aku tersenyum saja. Kadang ema-ema super duper ini terlalu membuat sesuatu menjadi wow, padahal itu hanya hal yang sepele. Setiap berkumpul mesti hatiku terbakar oleh prasangka dan praduga yang dilontarkan oleh ibu-ibu. Aku hanya berdoa semoga semua baik-baik saja. “Ya Allah jagalah keluarga ini untuh dalam ridha-Mu. Izinkan kami bersama selamanya menjalankan perintahmu menjaga amanah Mu agar menjadi anak-anak yang sholeh. Ya Allah yang Maha membolak balikkan hati. Jagalah hati Mas Tono agar selalu berada di jalan Mu. Dan terjaga dari setiap goda!” dingin malam merasuk sendi. Sepi menyelimuti. Malam itu aku adukan semua gundahku.

Tit tit tit!

Gawai mas tono berbunyi. “Ih siapa yang nge chat malam-malam gini?” Ku usap layar tipis itu. Rasa bersalah memburuku. Tak biasanya aku membuka gawai Mas Tono. Walau tanpa aturan baik secara lisan maupun tulisan, kami menjaga privasi masing-masing. Aku tak berani membuka gawai Mas Tono tanpa izinnya, begitupun sebaliknya. Dan mataku memanas pesan singkat itu cukup membakar sadarku. “Met bobo, sayang”. Jelas ku baca dari nomor yang tidak ku kenal. Sebentar ku melihat Mas Tono yang masih terlelap. Bagitu ku lihat gawai lagi. Pesan itu sudah di hapus oleh pengirimnya. Begitupun nomornya. Ku coba melacaknya dari histori. Tidak ada. Hilang. Sudah dihapus langsung sama pemilik pesan. Ku coba mengingat angka-angka nya. Gagal. Debaran jantungku terlalu mengguncang hingga aku tak sigap mencatat nomor atau menyimpan nya untuk ku pakai sebagai bukti pada Mas Tono.

Pertanyaan lain yang menggeliat di hatiku, siapa pengirim pesan? mengapa pesan itu langsung di hapus? Apakah dia tak ingin Mas Tono kalau dia menyapanya malam-malam? Atau si pengirim tahu bahwa mengirim pesan malam-malam akan berakibat yang tak diinginkan? Ku coba tenangkan diri. Mukena masih kupakai. Tasbih masih ku pegang. Sejadah masih menggelar. Sekuat tenaga ku kendalikan hatiku yang terbakar. Ku coba untuk tenang dan menganggap tidak terjadi apa-apa. Ku memeluknya. Dia menggeliat, melihat ku sebentar. Dia menarikku dalam peluknya dan kembali tidur.  Ku tatap Mas Tono lekat. “Mas, siapa yang kau panggil sayang?”