Wong Miskin Malati

Tiba-tiba istilah si kaya dan si miskin jadi viral. Ketika ada yang mengeluarkan pernyataan sebagai berikut:
“Yang kaya lindungi yang miskin agar bisa hidup wajar. Yang miskin lindungi yang kaya agar tidak tularkan penyakitnya.”
(Jubir Covid-19, 27 Maret 2020)

Sehari kemudian….

“Itulah yang saya katakan yang kemudian saya di-bully di mana-mana itu kan. Mbok yang kaya itu lho, saya sih memang agak keras ngomongnya. Bukan dalam rangka menghina yang miskin. Saya itu lebih mengatakan untuk menekan yang kaya.”

“Tetapi persepsinya di balik. Dikira saya menyudutkan yang miskin. Padahal saya ingin mempermalukan yang kaya gitu lho. Misalnya di rumah punya asisten rumah tangga, ART itu tiap hari mondar-mandir dari rumahnya ke rumah majikan, dia naik angkot kan resikonya tinggi toh untuk tertular. Kalau dia nanti sakit terus di rumah majikan sakit semua kan jadi repot.”
(Jubir Covid-19, 28 Maret 2020)
***

Pertanyaannya, kenapa jadi viral? Ya, karena sudah membenturkan satu keadaan penyakit/wabah dengan status sosial (kaya-miskin) di masyarakat.

Si kaya dan si miskin. Mendengar dua istilah ini, tiba-tiba juga teringat pada sebuah kisah menarik nan inspiratif, yang akan memberikan pemaknaan tentang si KAYA dan si MISKIN dari berbagai sudut pandang.

Suatu hari seorang ayah yang kaya raya mengajak anaknya melakukan sebuah perjalanan keliling negeri. Ayah bermaksud menunjukkan pada buah hatinya tentang bagaimana miskinnya kehidupan orang-orang di sekitarnya, agar anak bersyukur.

Mereka menghabiskan beberapa hari untuk menginap dari satu rumah ke rumah lain yang menurut ayah amat miskin. Setelah kembali dari perjalanan itu, ayah pun pertanya pada anaknya, “Bagaimana perjalanan ini nak?”
“Ini perjalanan yang hebat, Ayah,” kata si anak.

“Sudahkah kamu mengerti dan melihat betapa miskinnya sebagian manusia yang hidup di dunia?” tanya Ayah.
“Oh, tentu saja,” jawab si anak sambil tersenyum. “Sekarang coba ceritakan apa yang kamu pelajari dari perjalanan itu,” tanya ayah lagi. Anak tampak berpikir sejenak lalu menjawab dengan antusias.

Ayah, aku melihat kita punya seekor peliharaan, tapi mereka punya empat.
Kita punya kolam renang yang panjangnya sampai pertengahan taman saja. Tapi mereka punya anak sungai yang tidak ada ujungnya.

Kita memasang lampu-lampu khusus untuk menerangi taman kita, tapi mereka punya cahaya bintang yang indah di malam hari. Teras tempat kita duduk membentang hingga halaman depan, sedangkan teras mereka adalah horizon yang luas.

Kita punya tanah sempit untuk tinggal, namun mereka punya ladang sejauh mata memandang. Kita memiliki pembantu yang melayani kita, tapi mereka melayani satu sama lainnya.

Kita membeli makanan kita, tapi mereka menumbuhkan makanan sendiri. Kita punya pagar di sekeliling kita untuk melindungi diri, sedangkan mereka punya teman-teman untuk melindungi mereka.

Mendengar itu, Sang Ayah hanya bisa diam membungkam. Lalu si anak pun menambahkan sambil tersenyum, “Ayah, terima kasih sudah menunjukkan betapa MISKIN-nya kita.”

Nah, hikmah apa yang bisa diambil dari kisah di atas?

Ternyata, kaya dan miskin tergantung pada persepsi kita, bukan pada penilaian orang lain. Ya, kisah di atas mendorong kita untuk mampu dan mau melihat perspektif lain.

Lantas, bolehkah kita menyudutkan salah satu pihak atau keduanya sebagai penyebab terhadap satu keadaan? Untuk melakukan ini harus berpikir seribu kali. Apalagi jika sampai menyudutkan orang miskin.

Orang miskin itu kadang Malati. Dalam khasanah Jawa, malati adalah seseorang yang sudah melakoni banyak hal dalam hidupnya, sangat total ikhlas dalam menjalani hidupnya, seumur hidup ngalah (menuju Allah), tidak begitu banyak punya ambisi, namun jika ada yang menyalahinya, Tuhan langsung yang akan membalas orang yang akan berbuat jahat padanya.

Islam adalah agama yang sempurna dimana kedudukan seseorang dinilai dari tingkat keimanannya. Di dalam Islam, terdapat banyak keutamaan bagi orang miskin yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, yaitu

1. Mayoritas penghuni surga adalah orang miskin. Rasulullah Saw bersabda, “Aku telah berdiri di depan pintu surga, maka (kulihat) mayoritas orang yg memasukinya adalah orang-orang miskin“. (HR. Bukhori: 6547, Muslim: 2736)

2. Menjadi ahli surga. Dari Harits bin Wahb ra, ia berkata:
“Maukah kuberitahu pada kalian siapakah ahli surga itu? Mereka itu adalah setiap orang yang lemah dan dianggap lemah oleh para manusia, tetapi jika ia bersumpah atas nama Allah, pastilah Allah mengabulkan apa yang disumpahkannya. Maukah kuberitahu pada kalian siapakah ahli neraka itu? Mereka itu adalah setiap orang yang keras, kikir dan gemar mengumpulkan harta lagi sombong” (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).

3. Masuk surga sebelum orang kaya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda,
“Orang beriman yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya yaitu lebih dulu setengah hari yang sama dengan 500 tahun.” (HR. Ibnu Majah no. 4122 dan Tirmidzi no. 2353. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

4. Menjadi penolong umat. Rasulullah Saw bersabda,
“Kalian hanyalah mendapat pertolongan dan rezeki dengan sebab adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian” (HR. Bukhari no. 2896).

5. Menjadi salah satu kelompok yang diinginkan Rasul. Rasulullah Saw pernah mengharapkan hidup miskin dan digiring di akhirat bersama para fakir miskin, Beliau dahulu berdoa:

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَوْمَ القِيَامَةِ

“Ya Allah hidupkanlah aku sebagai seorang miskin, matikanlah aku sebagai seorang miskin, dan giringlah aku pada hari kiamat bersama kelompoknya orang-orang miskin“. (HR. Attirmidzi: 2352 dan yg lainnya, hadits ini dihasankan oleh Syeikh Albani).

6. Mendapat sambutan malaikat di surga. Dari Abdullah bin Amr bin Ash Ra. ia berkata, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, Apakah kamu sekalian mengetahui siapakah makhluk Allah yang pertama kali akan masuk surga?’. Para sahabat menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui’ Rasulullah bersabda, ‘Mereka adalah orang-orang miskin yang berhijrah yang menjadi barisan terdepan dalam menghadang musuh di medan perang, dan selalu menjauhkan diinya dari perbuatan yang haram. Kemudian salah seorang dari mereka meninggal, sementara ia belum pernah mengisi perut mereka. Lalu Allah berkata pada para Malaikat, ‘Hampirilah mereka dan hidupkan mereka’.

Para Malaikat berkata, ‘Wahai Tuhan kami, kami adalah penduduk langit-Mu, dan kami adalah makhluk-makhluk terbak diantara makhluk-makhluk ciptaan-Mu.

Mengapa Engkau menyuruh kami untuk mendatangi mereka dan mengucapkan salam kepada mereka?’, Allah menjawab, ‘Sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba yang mengabdikan dirinya kepada-Ku, tidak pernah menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, yang menjadi barisan terdepan dalam menghadang musuh di medan perang, dan menjauhi segala seusuat yang diharamkan bagi mereka.

Kemudian salah seorang diantara mereka mati sementara ia belum pernah menikmati apa yang diinginkannya’. Rasulullah Saw. bersabda, ‘Maka para Malaikat pun datang menemui orang-orang miskin itu.

Mereka masuk menemuinya dari setiap pintu sambil mengucapkan, ‘Keselamatan bagimu atas kesabaranmu, dan surga adalah sebaik-baik tempat untukmu’. (HR Ahmad, Al-Bazzar, Ibnu Hibban).

ayatkan dari Tsauban Ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, Sesungguhnya telagaku terbentang luas antara negeri ‘Ad sampai negeri Aman (Jordania). Gelasnya sejumah bintang, airnya lebih putih dari pada salju, rasanya lebih manis dari pada madu, dan orang yang sering mendatanginya dan meminumnya adalah orang-orang miskin yang berhijrah’, Kami bertanya kepada Rasulullah,

‘Wahai Rasulullah, bisakah engkau menyebutkan ciri mereka kepada kami?’, Rasul menjawab, ‘Rambutnya tidak terawat. Pakaiannya lusuh. Mereka tidak menikahi wanita-wanita pecinta dunia yang tidak bisa membantu mereka untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah.

Mereka tidak pernah mengutamakan kehidupan dunia meskipun mereka mampu meraihnya. Dan mereka selalu menginfakkan apa yang mereka miliki dan tidak pernah meminta kepada orang lain. (HR Thabrani, Ibnu Majah, Tirmidzi)

7. Wajahnya akan bersinar bagai mentari

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr Ra. ia berkata, Pada suatu hari di kala matahari telah mulai bersinar, aku duduk di samping Rasulullah Saw. bersama para sahabat lainnya. Tiba-tiba Rasulullah Saw. bersabda, Akan datang sekelompok kaum yang di hari kiamat nanti wajah mereka bersinar bagaikan matahari. Abu Bakar Ra. bertanya,

‘Apakah mereka itu kami wahai Rasulullah?’ Rasulullah menjawab, ‘Bukan, kalian semua lebih baik dari mereka beberapa derajat. Mereka adalah orang-orang miskin yang berhijrah, yang dikumpulkan dari seluruh penjuru dunia. (HR Ahmad, Thabrani)

8. Termasuk orang bertakwa

وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. [Al-Baqarah : 177]

Jadi, bersabarlah wahai orang miskin dan berhati-hatilah orang yang mengaku kaya. Tak perlu malu untuk menjadi miskin. Dan tak perlu berbangga ketika jadi kaya. Ketika orang miskin disalahkan dan bahkan dihina, ingatlah bahwa orang miskin itu malati. Selain itu, orang miskin juga punya kedudukan mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya.

Terpenting sekarang adalah segera perbaiki diri menuju ketaatan kepada syari’at Islam, agar jadi pribadi kekasih Allah dan Rasul-Nya. Tak perlu merisaukan lagi status miskin ataupun kaya. Setiap keadaan yang ada adalah kehendak dari yang Maha Kuasa.

Ingat, wong Miskin itu malati…

Nubar-rumahmedia/ummutsaroha