who’s the bos

Sebagai ibu yang baru mempunyai anak, aku benar-benar nol dalam ilmu parenting. Namun aku tak ingin asal saja mengikuti air mengalir dalam membesarkan anak. Mulailah aku belajar lagi, walaupun tak ada sekolah menjadi ibu.

Bagaimana cara aku belajar? Aku memperhatikan cara ibuku dalam mendidik anak juga cara-cara yang digunakan oleh orang-orang terdekatku. Selain itu aku juga berlangganan majalah ibu dan anak. Tak lupa ikut bergabung dalam komunitas sejenis.

Pernah suatu waktu, ada acara bincang santai yang diadakan oleh seorang ibu yang sudah menjadi nenek, yang juga seorang pemerhati tumbuh kembang anak. Banyak ilmu yang aku dapatkan di acara tersebut. Bonus lainnya adalah bertambahnya jaringan pertemanan sesama ibu baru.

Salah satu poin yang paling membekas adalah kalimat ‘Tunjukkan siapa bosnya’. Ya, dalam hubungan antara ibu/bapak dan anak, kita harus menunjukkan siapa yang berperan sebagai bos. Arti bos disini bukan orang yang suka memerintah melainkan orang yang memegang kontrol.

Kadang dalam usaha untuk mencapai keinginannya, anak sering mengetes orang tuanya. Jika kita sudah mengatakan tidak, maka anak akan mencoba dengan merengek. Jika kita masih berkata tidak, maka level yang dilakukan anak akan terus meningkat. Mulai dari menangis hingga tantrum.

Penting bagi kita untuk teguh dalam menerapkan aturan. Jika kita sudah sekali mengatakan tidak, maka kita harus terus berkata tidak untuk hal tersebut. Sebagai contoh, jika kita goyah ditahap menangis maka untuk selanjutnya anak akan menggunakan tangisannya dalam pencapaian kenginannya. Namun sebaliknya, jika kita tak tergoyahkan maka anak akan pikir-pikir dulu sebelum menangis atau bahkan tantrum karena sudah terekam di otaknya bahwa orang tuanya tidak bisa dikontrol dengan cara-cara tersebut.

Bersyukurnya, aku sudah mulai menerapkan cara tersebut sebelumnya. Semakin dimantapkan hati untuk terus begitu setelah mendapatkan ilmunya. Alhamdulillah, anakku tidak pernah merengek atau menangis jika punya keinginan yang tidak diizinkan oleh orang tuanya.

Perlu diingat melarang pun tidak asal melarang namun harus ada alasannya. Misalkan, hal itu berbahaya atau kurang baik bagi kesehatannya. Sehingga anak akan belajar berpikir sebelum bertindak, juga belajar untuk menimbang-nimbang apakah hal yang diinginkannya itu baik untuk dirinya.

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie