WEJANGAN IBU

Bersabar itu perlu, dan sangat di butuh kan. Apalagi untuk yang sudah berumah tangga dan punya anak. Tahu gak sih, kalau sabar nya istri tak berbatas, dan harus punya stok berkarung-karung. Udah kayak beras aja ya.. hehehe.
“ Mas, anterin sebentar ke pasar yuk?” pinta istri sesekali ingin di antar.
“ Mas, tolong dong bantu aku, galon air habis, Mas yang angkat ke dalem ya.”
“ Mas, pasangin gas dulu, habis ini lho, aku nanggung lagi masak”
Dan masih banyak permintaan lainnya. Bukan tak sanggup sendiri, bukan manja atau aleman. Tapi hanya ingin berbagi tugas dan perhatian. Tapi terkadang yang di dapat hanya jawaban “ Iya sebentar nanti Dek.”
Ada rasa marah? Jengkel? Yaaa pasti ada lah. Kan istri juga manusia biasa.
Namun semua itu di tepis, hanya karena tak ingin ribut, berantem atau ngambek berkepanjangan. Hanya bisa ambil nafas panjang dan ya sudahlah.
Pernah sesekali, ada Ibu Mertua ketika aku butuh bantuan suami.
Le, kae lho Bojomu mbok ewangi ndisik.”
Aku hanya mendengar samar, ketika Ibu menegur anak lelakinya.
Malam tiba, biasa sekeluarga ketika sedang berkumpul bersama duduk sambil medangan bersama.
Ibu angkat bicara tak seperti biasanya. Kami di dudukan, hati sudah sedikit was-was, ada apa gerangan.
“ Tak kandani Yo Le, kalau istrimu minta tolong mbok ya ndang ngono lho, jangan biasakan istrimu mandiri.”
Aku sedikit bertanya di hati, apakah ini sindiran, atau memang teguran untuk anak lelakinya. Aku menerka-nerka dalam hati, tak berani menatap.
“ Nggih Buk” jawab nya singkat, memang suamiku itu kalau Ibu sudah ngendhiko dia hanya bisa mendengarkan dan sendiko dawuh.
“ Nanti kalo istrimu terlalu mandiri, iso opo-opo dewe, terus fungsimu apa, sebagai suami?”
Ibu menyudahi pertanyaan sekaligus pernyataan yang bagiku mak jleb di hati. Ah, aku menjadi tidak enak hati.
Mas ku memandang diriku penuh rasa bersalah, sambil memegang tanganku. Aku hanya bisa mengangguk pelan.
“ Maafin Mas ya Dek, kurang peka sama kamu.”
Aku hanya tersenyum.

Sesederhana itu nasihat Ibu, tapi begitu mengena. Belajar saling memahami di antara dua pribadi, di perlukan sabar dan rasa toleransi tinggi. Jangan pernah mengedepankan egois, rasa amarah yang bisa merugikan. Bicarakan berdua, karena sesungguhnya mencintai pasanganmu tak serumit rumus logaritma.

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu