Virus pembunuh jiwa

Pagi bagiku seperti warna ungu. Warna yang kusuka, yang membuka cakrawala. Membuka pintu dan jendela. Menghirup udara beraroma daun kering dan tanah. Lalu berjalan menuju teras. Menggerakkan badan dengan beberapa gaya sederhana.Memegang beberapa helai daun bunga, dan beranjak ke ruang makan.

Saatnya menyeduh kopi pagi, sebab goreng pisang atau singkong telah tersedia. Membawa dua cangkir kopi, yang satu manis dan lainnya pahit, menuju teras, dan meletakkannya di atas meja.
Bergerak cepat mengetuk kamar ayah.

“Ayaaah, saatnya ngopi.” Rutinitas yang sangat kusukai.

“Ya, tunggu. Ayah keluar.”

Aku akan duduk manis dikursi rotan yang menyenangkan. Memandang merapi dan singgalang, yang seringnya ditelan awan.Mereka biasanya muncul saat pisang goreng kami tinggal piringnya saja.

“Tumben, kopinya lebih cepat?”

“Kok ayah tahu?”

“Sebab ngaji ayah sedikit.”

“Hehehe…, maaf Yah. Hari ini Lili harus berangkat lebih pagi.”

“Ohhh, ada pertemuan?”

“Bukan Yah, ada janji sama dua orang siswi mereka mau ikut olimpiade, dan semalam pertanyaannya belum Lili jawab. Lili janjikan pagi sebelum jam pertama.”

“Bagus tuh, selalulah menepati janji.”

Sruuuppp…sruuupp…sruuup.

Aku mengikuti ayah yang menikmati kopinya perlahan.

“Mengapa kita harus menepati janji Li?”

“Sebab janji adalah utang Yah, kalau kita tidak tunaikan , selamanya kita akan memiliki sandungan..”

“Benar sekali. Janji yang terucap haruslah dilaksanakan. Dalam keadaan sempit ataupun lapang. Makanya kita dilarang untuk mengumbar janji. Juga diminta hati-hati saat berucap. Jangan sampai terbawa hati dan suasana, lalu yang lahir kemudiaan kata-kata kosong belaka.”

“Berbohong maksud Ayah?”

“Ya. Al-Qur’an membahas tentang bohong dan dusta pada 284 ayat. Jumlah yang fantastis kan. Ini menunjukkan Allah menuntun kita untuk menjauhi kejahatan yang satu ini.”

“Duhhh…berbohong itu masuk kategori kejahatan ya Yah.”

“Pastinya, orang yang suka berbohong akan membunuh akal pikirannya dan dan mengubur hati nuraninya. Berbohong itu akan menggerus realita yang dimiliki, dan pada akhirnya meniadakan dirinya sendiri. Sangat berbahaya Li. Ia akan mengunci hati, dan tidak mampu lagi melihat batasan benar dan salah, hitam dan putih. Pada tataran yang lebih besar, berbohong akan memudahkan individu untuk melanggar aturan, mungkin awalnya untuk kepentingan sesaat, namun bisa jadi berkembang pada keserakahan. Intinya bohong itu seperti virus yang masuk ke dalam tubuh. Sekali ia mendapat tempat dan diberi kesempatan, maka virus bohong akan memperbanyak diri. Bertumpuk-tumpuk, menghimpit nurani. Lalu kita lupa pada diri sendiri. Virusnya mengambil alih dan memanipulasi.”

Sruuuppp…sruuupp…sruuup.

“Ngeri banget Yah.”

“Menakutkan, dan berdampak sistemik jika dilakukan oleh orang-orang yang jadi panutan. Orang tua pada anaknya, guru pada muridnya, atasan pada bawahannya, bahkan pemimpin pada orang-orang yang dipimpinnya. Sebab bohong itu bisa jadi legitimasi bagi orang yang menerima atau mendengarnya. Jika Lili hari ini berjanji akan membahas soal olimpiade bersama murid, lalu telat hadir di sekolah, lalu berkilah ini dan itu, murid akan mencatatnya. Bisa jadi menirunya. Maka kebohongan telah memiliki pewaris. Itu contoh kecil. Bisa saja ini terjadi juga pada pembicaraan orang tua dengan anaknya, atau dalam interaksi lainnya. Coba bayangan jika pemimpin berbohong, ketahuan, dan tidak dihukum.”

“Nggak mungkin pemimpin ketahuan berbohong Yah, kebohongannya akan ditutupi.”

“Naahhhh, maka para pengikutnya akan melindunginya, apakah cukup satu pembantunya? Tentu tidak. Sebab pemimpin memegang kendali hajat hidup orang banyak. Berbagai data akan menjadi simulasi saja. Lalu akhirnya ceritanya akan menjadi sistemik, bahkan bohongnya menjadi terencana. Hanya untuk menutupi sesuatu yang mungkin tidak sengaja terucap, tak berniat untuk melakukannya.”

“Jadilah semua dalam kondisi kamuflase Yah…ngak sanggup membayangkannya.”

Sruuuppp…sruuupp…sruuup

“Maka jaga hati, pikiran dan indera. Jadilah apa adanya dan konsisten dengan ucapan. Bohong itu virus yang sangat mudah menular. Ia mungkin tidak mematikan fisik, tapi ia menghancurkan psikis, pelan dan pasti. Lalu kamu tidak mengenal dirimu lagi.”

“Doakan lisan Lili selalu terjaga ya Yah.”

“Itu mah always, selalu masuk didoa Ayah, semoga kita semua selalu dalam koridornya. Mampu melihat kebenaran dan mengikutinya, mampu mengatakan yang benar itu benar, meski pahit akhirnya.”

Secangkir kopiku kandas sudah. Masih ada satu pisang goreng dan itu milik ayah. Aku bangkit sedikit tergesa. Bertekad janjiku yang terucap segera dapat kupenuhi.

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita