Ummi, Aku Tidak Nyaman

Ummi, Aku Tidak Nyaman

Suatu hari saat membereskan buku yang tersebar di sekitar ruang baca gara-gara dibongkar si “curious baby“, aku menemukan sebuah buku kecil yang tak kukenali sebelumnya. Karena penasaran, aku membuka buku tersebut. Maa syaa Allah, ternyata itu adalah buku diarinya si anak tengah.

Aku mengajarkan satu hal kepadanya, ungkapkanlah apa pun yang dirasa dengan sebuah tulisan. Hal itu insya Allah akan membantu melepaskan beban dan emosi di dada. Ternyata apa yang aku sampaikan pada satu-satunya anak perempuan di rumah kami dilaksanakannya dengan baik.

Jangan bayangkan diary nya orang dewasa ya, karena ini buku ini singkat-singkat. Beberapa tulisan ada yang ditulis dengan huruf kecil semua, ada yang pakai huruf balok semua, ada juga yang menggubakan huruf tegak bersambung.

Tulisannya tak jauh dari curhatan khas anak kecil. Misalnya:

“Aku kesel sama Umi.”

“Aku kesel sama Abi.”

“Aku kesel sama Nana.”

“Hari ini ulangan matenatika.”

Dan beberapa kalimat lain yang hampir semuanya senada. Singkat, padat, dan jelas. Namun, ada satu lembaran yang menarik perhatian, dia menuliskan, “Aku tidak nyaman saat si Naila cemberut sama aku”.

Entah sedih atau bersyukur saat membaca ini. Sedihnya kenapa dia tidak mau mengungkapkan ketidaknyamanannya kepadaku selaku ibunya. Apa mungkin aku kurang care padanya. Kok serasa ada jarak yang tak kasat mata antara dengan si anak menjelang gadis ini.

Bersyukurnya, dia bisa mengungkapkan perasaannya walaupun melalui sebuah media. Tapi paling tidak dia tidak menyimpan unek-uneknya dalam hati.

Berbeda cerita dengan si sulung. Dia selalu cerita ketidaknyamanan apa yang dia rasakan. Saat ada temannya yang menjahili hingga mendorong ke kolam depan pendopo pondoknya, dia mau curhat dan mengatakan kegelisahannya. Pun saat di rumah kemana-mana pasti mengekori.

Hingga aku suka bilang, “Kenapa sih Aa selalu ikut Ummi kemana-mana, kan udah jelas Ummi hanya di rumah.”

Dan jawabannya, “Aku maunya dekat terus sama Ummi.” Aih, ini hati jadi meleleh. 😍😍

Terus sempat aku isengin, “Kenapa kalau setoran hafalan maunya sama Ummi aja ga mau sama Abi?”

Dia jawab, “Kalau Abi, ya gitu deh!” Jawabannya cukup membuat saya menahan geli.

Apa memang benar ya fitrahnya anak laki-laki lebih dekat dengan ibunya, sementara anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya?

Atau ada hubungannya dengan mesin kecerdasan (MK) yang mempengaruhinya. Si sulung ber-MK Thinking, sementara si tengah ber-MK kembar dengan yakni sama-sama Sensing.

Boleh diskusi di kolom komentar ya teman-teman yang sudah baca cerita ini. Asli ini si emak butuh masukan. 😁

rumahmediagrup/wina_elfayyadh