Ujian Keikhkasan di Hari Pertama Puasa

Penulis : Uty agusriati

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh rahmat dan keberkahan. Bulan dimana segala amal perbuatan akan dinilai berlipat ganda. Sholat, puasa, sedekah/infak/zakat, dan amal jariah lainnya. Makanya sangat dinanti-nantikan oleh seluruh umat muslim di seluruh permukaan bumi ini. Laki-laki, perempuan, orang tua, kanak-kanak semuanya bergembira menyambut kedatangannya.

Di balik ganjarannya yang berlipat ganda, tentu akan ada sebuah perbuatan yang dilakukan untuk menyeimbangkan keduanya. Sebutlah itu keikhlasan.

Kita tahu bahwa Ramadan identik dengan bulan puasa. Untuk melaksanakan puasa kita mulai dengan niat, kemudian sahur pada dini hari/sebelum memasuki waktu subuh. Menahan lapar, haus, dan nafsu di siang hari, kemudian berbuka puasa di waktu magrib. Rentetan kegiatan ini sepertinya sangat mudah dilakukan. Tapi tidak demikian bagi para ibu rumah tangga. Kegiatan jnj adalah ujian terberat untuk menilai seberapa ikhlaskan dirinya tampil sebagai ibu rumah tangga, sosok istri dari suaminya, dan ibu dari anak-anaknya dalam menyiapkan makanan untuk berbuka puasa dan sahur.

Seorang ibu sudah mulai terjaga di saat Anggota rumah tangganya masih terlelap dalam mimpi masing-masing. Dia sudah beraktivitas di dapur sekitar pukul 02.00 dini hari untuk menyiapkan bahan makanan sahur. Memasak di tengah kantuk dan dinginnya udara malam. Masih baik kalau ada anggota keluarga yang berbaik hati sekedar menemaninya ngobrol. Tapi rata-rata anak dan suami terbangun di saat hidangan siap untuk disantap.

Setelah sahur, seorang ibu masih harus membereskan dapur. Menyimpan makanan yang masih tersisa dan membersihkan rumah. Kalau punya asisten rumah tangga ini bukan masalah, akan tetapi tetap dikerjakan oleh asistennya tadi.

Aktivitas ini akan dimulai lagi pada pagi harinya. Ibu akan belanja ke pasar, membeli bahan yang akan dimasak pada saat berbuka dan sahur.

Setelah ashar /sekitar pukul 15.00, ibu akan mulai lagi aktivitas di dapur. Menyiapkan takjil/makanan dan minuman pembuka. Kemudian menyiapkan makanan berat setelah shalat magrib.

Melaksanakan kegiatan ini sangat membosankan pastinya. Apalagi dilakukan selama satu bulan penuh. Terkadang muncul keluh kesah yang bisa dianggap wajar. Karena manusia pasti akan dihadapkan pada suatu titik jenuh.

Di sinilah diperlukan yang namanya ikhlas.

Ikhlas secara bahasa artinya memurnikan, sedangkan dalam istilah syara’, ikhlas adalah memurnikan niat dalam beribadah kepada Allâh, semata-mata mencari ridha-Nya dan mengharapkan pahala di akhirat, serta membersihkan niat dari syirik niat, seperti riya’, sum’ah, mencari pujian, balasan, dan ucapan terimakasih dari manusia, serta niat duniawi lainnya.

Ikhlas adalah mencari ridha Allâh sebagaimana firman-Nya Azza wa Jalla :
وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَاتِ اللهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
Dan barangsiapa yang
berbuat demikian (yaitu: memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia) karena mencari keridhaan Allâh, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. [An-Nisa’/4:114]

Ayat ini menjelaskan bahwa segala aktivitas manusia akan berbuah pahala jika memenuhi dua syarat :
a. ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla .
b. amalan itu sesuai dengan apa yang telah disyari’atkan oleh Allâh dalam al-Qur’an atau dijelaskan oleh Rasul-Nya . Jika salah satu dari dua hal ini rusak, amalan itu tidak akan diterima.

Hari pertama puasa di bulan Ramadan adalah hari ujian terberat. Para ibu rumah tangga diuji keikhlasannya dalam menyiapkan makanan bagi anggota keluarganya. Diuji keikhlasannya untuk menahan kantuk, mengeluarkan waktu, tenaga, pikiran semuanya karena satu niat yakni mengharap Ridha Allah SWT.

Keikhlasan ini yang akan menjadi salah satu ladang ibadah menuju pintu surga.

Nubarnulisbareng utyagusriati