Ucapan adalah Doa Part. 8

Seminggu berlalu, Aku mulai terbiasa tidur malam tanpa menunggu Rangga membalas chat ku. Aku pun tak ingin berlama- lama merasa sedih, karena akupun harus fokus pada Tugas Akhir dan pekerjaanku dikantor. Tapi sesekali jiwa kepo ku hadir saat membuka akun sosmed FB, apalagi Rangga saat itu mengunggah foto bersama teman satu pekerjaannya. Foto itu sekilas biasa saja namun ketika aku perhatikan dengan detail diantara beberapa foto ada satu foto Rangga berpose dengan teman wanita nya dekat sekali.

Dan itu adalah wanita yang sangat aku cemburui karena mereka terlalu dekat layaknya seorang kekasih. Pernah juga sekali bertemu saat aku berada dikosan Rangga, tingkah nya sedikit membuatku risih karena bergelayut manja pada Rangga seperti sudah biasa dan sering ia lakukan tanpa peduli ada aku di dekat Rangga. Aku jadi berfikir mungkinkah Rangga memutuskan hubungan kita demi wanita itu ? Karena pose mereka dekat sekali bahkan akupun belum pernah berfoto sedekat itu dengan Rangga.

Aku simpan HP di atas lemari dan beranjak ke kasur, baru ku tarik selimut terdengar sebuah chat masuk. Ternyata dari Rangga, aku baca dengan pelan sampai beberapa kali. Chat ini berhasil membuat aku merasa kecewa lagi. Rangga meminta balik Handphone Blackberry yang pernah ia berikan padaku. Aku memiliki dua HP yang satu bermerk Samsung namun pada saat itu sedang tren memakai BBM, belum ada aplikasi Whatsapp seperti sekarang ini.

Awalnya aku ingin membeli BB tapi karena saat itu aku belum memiliki penghasilan sendiri dan aku tak ingin semakin menyulitkan ibu meminta sesuatu yang memang tidak terlalu penting, aku utarakan keinginan itu pada Rangga. Tak disangka aku diberikan Handphone yang aku ingin setelah itu aku pakai, apalagi saat mulai bekerja ternyata sangat berguna karena terhubung dengan rekan kerja di kantor dalam sebuah grup.

Aku mengatakan bahwa aku keberatan dengan permintaan Rangga yang menginginkan Hp itu kembali padanya. Akhirnya kita bernegosiasi, jadilah aku harus membayar sekitar Rp. 800.000-, aku titipkan uang itu kepada Deni dengan sebuah jaket milik Rangga. Deni adalah teman dekat Rangga yang sedang pulang kampung. Entahlah aku tak mengerti kenapa Rangga menjadi perhitungan sekali, padahal ketika kami bersama saat ia datang ke rumah, aku yang selalu membayar tagihan saat kita makan diluar. Tapi aku tak pernah perhitungan atas itu.

Ini membuat aku semakin merasa kecewa padanya, memutuskan hubungan dengan sepihak tanpa tau alasan pasti. Bisa jalan dengan teman perempuannya disana dan memamerkan fhoto nya di akun Facebook tanpa peduli perasaan aku ketika melihat nya sekarang malah meminta sesuatu yang sudah diberikan, bukan aku tak tahu diri bisa saja aku berikan lagi Hp itu tapi aku akan kehilangan beberapa kontak, atau percakapan penting di grup. Karena saat itu aku lupa email dan sandi. Sangat malas jika aku harus mengulangnya dari awal lagi.