Ucapan adalah Doa Part.7

Malam itu secara sepihak Rangga mengirimkan pesan pada Blackberry Messenger(BBM) yang isi nya ia ingin break pada hubungan yang sedang kita jalani. Aku sungguh kaget padahal sebelumnya komunikasi kita baik tidak ada masalah sedikitpun. Ya walaupun Rangga sangat cuek sekali tapi aku bisa memakluminya. Aku tak tahu alasan pastinya apa, aku hanya sangat sedih dan kecewa saat itu. Padahal di akhir tahun lalu Rangga mengajak ku berkunjung kerumah orangtuanya di kampung. Orangtuanya pun sangat baik sekali ramah bahkan ada satu moment ibu nya berkata ” Rangga mau kapan ? Ibu ada sedikit tapi cukuplah untuk akad dan resepsi meski tidak mewah. “

Aku sangat tersipu malu saat itu pertama kali nya berkunjung sudah mendapat tawaran seperti itu. Dan Rangga pun bercerita bahwa aku adalah satu – satu nya wanita yang ia bawa bertemu dengan keluarga nya. Rangga pernah berjanji pada dirinya sendiri ketika ia menjalani hubungan yang cocok dan serius ia akan memperkenalkan kepada kedua orangtua nya. Akupun sempat memandikan adik bungsu nya yang bernama Kalina berumur 5 tahun. Semua rasanya terlihat normal dan lancar saat aku berkunjung. Namun mengapa pada malam ini Rangga mengirimkan pesan yang membuatku kecewa lagi.

Hari senin ini aku kesiangan pergi ke kantor entahlah semalam rasanya tak berhenti memikirkan perkara apa yang membuat Rangga tiba- tiba menjauh, sampai sakit  kepalaku ini. Bergegas berangkat lalu berpamitan pada nenek sampai tak sempat untuk sarapan. Aku tinggal bersama nenek setelah lulus sekolah SMK, karena disamping tempat kerja dan kampus ku yang cukup dekat dengan rumah nenek. Aku memang sengaja tinggal bersama nya karena lebih merasakan kebebasan batin, kebetulan nenek pun tinggal sendiri karena semua anaknya sudah memiliki rumah diluar kota bersama keluarga nya.

Termasuk ayahku, meski cuma berbeda kecamatan tapi aku lebih memilih untuk tinggal bersama nenek sembari menemani hari tua nenek. Karena sedari dulu hanya nenek tempat aku berbagi semua tentang kehidupanku. Nenek adalah penyemangat untuk aku selalu bisa kuat dalam menghadapi apapun termasuk menghadapi ayahku. Hubunganku dengan ayah tak seharmonis kebanyakan orangtua dan anaknya. Pola pengasuhan yang keras membawaku selalu dalam rasa sedih.

Angkot mulai membawaku melaju ke kantor, hari ini juga atasan ku akan menginterview beberapa  orang yang lamaran nya sudah masuk untuk menggantikan beberapa posisi job desk lapangan yang kosong. Aku diberikan tugas tambahan untuk menelepon para pelamar supaya datang ke kantor, tapi aku malah sedikit kesiangan. Sesampainya di kantor aku segera menelepon para pelamar, lalu sarapan dan memulai aktivitas ku di depan komputer. Pukul 10.00 para pelamar satu persatu datang dengan pakaian formal nya.

Ada sekitar 7 orang yang akan diinterview, semua berjenis kelamin laki-laki tentunya karena posisi yang diperlukan di bagian lapangan sebagai marketing dan kolektor. Jam istirahat Pak Tama memanggilku ke ruangan nya, menyerahkan 4 amplop coklat besar yang sudah lulus seleksi sesuai kriteria yang dicari dan bisa bekerja mulai esok hari. Sesudah makan siang aku mengabarkan kepada Andri, Budi, Alvin dan Desta bahwa mereka sudah bisa bekerja di kantor kami.