Ucapan adalah Doa Part. 3

Hingga memasuki bangku kuliah ayah masih menjadi kepala keluarga yang disfungsional. Dan aku sudah mulai terbiasa dengan keadaan seperti ini. Aku cuma berdoa untuk ibuku supaya beliau selalu sehat dan bahagia. Ibu adalah orang yang paling kuat, ikhlas dan sabar dalam menjalani kepelikan hidup rumah tangganya. Aku pernah memberi saran pada ibu untuk meninggalkan ayah. Bagiku kita bisa bahagia tanpa ayah. Mencari kebahagian kita,  karena selama aku kecil hingga dewasa aku belum pernah melihat ibu merasa bahagia. Badannya sangat kurus kering, muka kusam. Aku tahu alasan ibu bertahan karena aku dan adikku.

Tapi hari itu aku memberi saran dan pandangan agar ibu bisa merubah keteguhan hati nya. Aku bilang ” Bu, kita itu pantas bahagia, tanpa ayah. Apa ibu tidak letih menjalani kehidupan seperti ini. Aku letih bu. Mau berapa lama lagi kita selalu menahan diri dan sabar atas segala sikap dan kelakuan buruk ayah. Ibu berhak mencari kebahagiaan lain. Kerjaan ibu punya, setidaknya ibu masih bisa membesarkan adik hingga kuliah nanti. Aku cuma ingin ibu bahagia, keluar dari keadaan yang sakit ini. Cukup sampai disini bu. “

Ibu cuma jawab “Nak, bahagia ibu cukup dengan kalian bisa sehat, berprestasi dan jadi anak yang bisa membanggakan ibu. Biar ibu seperti ini karena mungkin ini sudah menjadi suratan takdir ibu dari Allah SWT. Baik buruk nya sifat dan sikap ayah ia adalah ayahmu nak”. Pembicaraan kami sampai disitu, aku paham ibu bukan tipe wanita yang bisa meninggalkan sesuatu yang mungkin bukan jadi sumber kebahagiaannya, tapi akan tetap bertahan meski puluhan tahun bahkan mungkin hingga menghabiskan seluruh waktu hidupnya demi menunggu ayah bisa berubah menjadi lebih baik lagi.

Semenjak saat itu aku sudah tidak mempertanyakan alasan ibu untuk bisa tetap bertahan mendampingi ayah. Yang aku lakukan hanya bisa membahagiakan ibu dan adik dengan caraku. Seperti misal nya ketika adikku ulangtahun, aku tak ingin ia merasakan kesepian   melalui hari kelahiran nya tanpa ada perhatian dari kedua orangtuanya. Aku selalu sempatkan menjadikan momen ulang tahunnya adalah hari terbaiknya meski hanya hal sederhana yang aku beri. Hanya membelikan kue tart kecil atau hadiah sederhana karena aku belum bekerja. Itu aku lakukan disetiap tahunnya. Setidaknya ada kenangan indah dalam memori otaknya meski itu sederhana.

Di semester ketiga aku mulai mencari pekerjaan untuk bisa membantu biaya kuliahku. Aku sangat bersyukur ibu bisa membiayai kuliahku. Walau aku hanya D3 Komputerisasi Akuntansi ini sebuah perjuangan bagiku bisa ada jalan untuk melanjutkan sekolah atas izin Allah SWT. Bayangkan jika saat itu ibu tidak lulus test CPNS mungkin keadaan aku sekarang bukan seperti ini. Mungkin aku telah putus sekolah sejak lama, bagaimana nasib masa depan  aku dan adiku. Itu mungkin menjadi beban berat nya ibu. Sedang ayah, mana mungkin memikirkan nasib kedua anaknya ini.

Bisa mendapat pekerjaan dengan niat membantu biaya kuliahku. Alhamdulillah Allah mudahkan dan lancarkan prosesnya. Aku bekerja di kantor jasa keuangan yang cabangnya baru dibuka di daerahku. Mendapat jabatan sebagai Finance & PGA Processor dari Manager Area yang pada saat itu kepala cabangku sendiri tak percaya  aku bisa jujur dalam mengelola keuangan kantor. Miris sekali memang tampangku sangat kriminal mungkin di mata nya hingga dengan terang- terangan berkata tak percaya padaku pada meeting pembagian job desk setelah kami beberapa karyawan menjalani training beberapa minggu d