Ucapan adalah Doa Part. 2

Aku tidak pernah mengadukan perilaku ayahku pada ibu. Karena aku tak ingin membuat ibu semakin banyak beban pikiran. Tak juga ku bayangkan ayah menjadi pribadi yang sangat buruk sekali, baik sebagai anak, suami bahkan ayah untuk kedua anaknya. Padahal ayah juga paham tentang ilmu agama. Dosa nya seorang kepala rumah tangga ketika tidak memberi nafkah pada anak dan istri nya. Ini terjadi semenjak ayah sudah tidak lagi memiliki penghasilan yang tetap, ditambah ibu yang mendapat rezeki menjadi guru. Ada rasa iri dalam diri ayah ketika ibu mengambil tugas menjadi tulang punggung keluarga. Membiayai semua kebutuhan rumah tangga meski terkadang tidak cukup.

Padahal jika disyukuri sepertinya akan terasa nikmat jika ibu dan ayah saling mendukung. Tapi sayang keluarga harmonis yang selalu ku impikan tak pernah ada hingga aku dewasa. Aku kehilangan figur ayah saat aku sangat membutuhkan nya melewati masa remaja hingga dewasa. Masa anak- anak hingga dewasa ku habiskan dengan banyak memendam semua rasa kesal, sedih, kecewa, sakit hati, terluka, membuat pribadiku menjadi introvet. Banyak rasa iri di dalam hati kepada mereka yang keluarga nya harmonis. Bisa bercengkrama dengan ayah, di ajari banyak hal, dinasehati ketika salah.

Aku sedari SD mulai melakukan banyak yang mungkin membuat ibu sangat khawatir tapi sungguh aku melakukan nya hanya untuk mencari hiburan karena aku selalu merasa tertekan berada di rumah. Misalnya seperti pulang sekolah agama terlalu larut malam hingga ayah mencari ku, pulang ke rumah aku diusir hingga berkali kali, karena aku main tidak tahu waktu. Selalu dimarahi tanpa alasan ketika ibu sedang bekerja dengan membanting alat- alat bangunan seperti martil dan lain-lain membuat kegaduhan. Aku selalu merasa takut ketika ayah sudah mulai membanting barang. Rasanya dadaku sesak dan kaget. Ingin pergi berlari keluar tapi aku takut sekali. Takut jikalau aku lari ayah berteriak, melempar barang ke badan atau kepalaku. Atau ayah akan menghunuskan pisau di dadaku. Bayangan buruk itu selalu ada dalam pikiranku.

Pernah suatu hari aku sedang menemani nenek Rina di samping rumahku yang sangat baik sekali. Yang suka menyuruh aku mengerik badannya jikalau beliau masuk angin. Aku merasa tenang dan aman setidaknya aku tak melihat ayahku, menghindar darinya. Tapi lagi-lagi tanpa aku tahu sebab nya ayah marah-marah sendiri dengan nada tinggi hampir bisa di dengar oleh semua tetangga yang rumahnya berdekatan dengan rumah kami. Ayah berkali-kali melempar batu bata pada tembok dengan sekat seng yang suara nya sangat kencang sekali jikalau dilempar sesuatu. Aku memegang dadaku yang tiba-tiba menjadi sesak dan sakit lalu menangis sejadi nya di hadapan nenek Rina. Nenek Rina menangis seraya memeluk ku, yang saat itu gemetar takut sekali.

Apa ayahku ini gila ? Selalu pikiran itu yang hadir dalam benak. Karena hampir setiap hari ayah selalu marah-marah kadang hanya karena masalah sepele. Dan selalu aku yang menjadi sasaran marah ayah, meski ayah tak pernah memukul tapi mendengar kata kasar, makian setiap hari membuat aku selalu merasa terpukul. Aku ingat pernah berdoa pada Tuhan sambil menangis di waktu sore hari termenung sendiri sambil melihat awan. “Ya Allah, kenapa aku hidup seperti ini. Setiap hari selalu dimarahin sama ayah ? Apa aku bukan anak ayah ? Sedang adik tak pernah ayah marahi ketika nakal pun ? Bagaimana Ya Allah supaya ayah bisa sayang sama aku ? Ya Allah apa perlu aku berdoa supaya Engkau memberiku sakit parah, supaya ayah bisa sayang sama seperti itu, hanya selembar kertas apa bisa membiayai sekolah kamu sampai lulus ! “.