Ucapan adalah doa Part. 17 (End)

Kurang lebih seminggu lagi sebelum hari pernikahan kami mendapat cobaan lagi dengan meninggalnya Mamah Tuti, calon mertuaku. Sungguh sesingkat itu perkenalan kami, padahal sebelumnya banyak hal yang ku bayangkan ketika menjadi menantu nya nanti. Aku ingin membantu mamah mengurus rumah, aku ingin belajar masak dengannya, aku ingin menemani nya kala kesepian.

Semua kerabat terdekat kumpul dipemakaman mamah,  hari ini aku dan Alvin izin tidak masuk kantor. Karena aku ingin mendampingi Alvin melewati keadaan ini. Tapi jujur aku juga agak terasing kan berada ditengah keluarga nya. Tangis Alvin memecah pertahanan tegar nya saat jenazah dimasukan ke liang lahat. Sungguh dari kejauhan aku sangat iba sekali, ingin sekali memeluknya. Setidaknya menenangkan diri nya, tapi entah kenapa aku berdiri jauh sekali dari Alvin yang berdiri dekat dengan pusara yang masih basah itu.

Setelah pemakaman semua sibuk masing- masing, aku merasa sangat tidak nyaman sekali karena ada seorang wanita yang menatap ku dengan sinis. Melihat ku dari ujung hijab hingga sepatu yang ku kenakan. Apalagi setelah pemakaman itu dia terlihat dekat sekali dengan Alvin sambil berbincang, Alvin bisa tersenyum karena nya. Dan seakan Alvin tak melihatku menunggu dirinya untuk bisa berbicara berdua denganku. Alvi nterlihat dingin dan cuek. Mungkin perasaan ku saja, apa mungkin aku sedang cemburu.

Alvin masih sibuk dengan wanita itu, aku berjalan keluar mencari sepatu ku. Aku pergi ke jalan memberhentikan sebuah angkot. Mungkin tak ada yang sadar jika aku pergi tanpa pamitan termasuk Alvin. Entah rasanya malah tidak nyaman hanya memperhatikan sekitar yang sibuk berbincang sedang aku asing sendiri disitu. Malam hari nya baru lah Alvin mengirimkan chat padaku, menanyakan bahwa ia mencariku.

Hari ini tanggal 25 Mei 2014, hari pernikahanku dengan Alvin. Setelah ijab kabul yang berlangsung dengan khidmat, barulah aku dipanggil keluar kamar menuju pelaminan. Jujur rasanya campur aduk, bahagia tapi merasa sedih sekali karena kami semua masih dalam keadaan duka. Tapi semoga banyak doa dan harapan yang tercurah untuk kami dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Tak pernah aku terpikirkan bisa menikah di tahun 2014. Awalnya hanya ucapan spontan yang aku lontarkan kepada Alvin yang harus beberapa kali meyakinkan aku saat ia menyatakan rasa padaku.

Aku berucap ” Alvin, maaf sebelumnya aku gak bisa terima kamu, aku ingin menikah di tahun ini. Aku tidak ingin pacaran lama, karena aku tak ingin banyak membuang waktu untuk sesuatu hal yang tidak jelas pada akhirnya”. Padahal itu perkataan untuk menolaknya secara halus. Ucapan spontan itu seakan menjadi doa kilat ditahun 2014, Allah langsung kabulkan.

End.