Ucapan adalah doa Part. 16

Pada hari Minggu mamah Tuti diperbolehkan untuk dirawat dirumah bukan karena keadaan mamah yang membaik tapi justru dokter yang angkat tangan atas penyakit yang diderita mamah. Aku berbicara pada nenek tentang keadaan mamah. Nenek ingin sekali menjenguk.

Hari senin ini aku berangkat lebih awal sambil ditemani nenek yang ingin menjenguk mamah, kami naik angkot kebetulan jarak rumah Alvin dan kantor tidak terlalu jauh. Sesampainya di rumah Alvin masih sibuk mengurus keperluan ibu nya, saat itu Alvin belum mandi dan bergegas untuk berangkat kerja. Aku yang mengambil alih tugasnya menyuapi mamah.

Masih ada respon dari mamah ketika aku suapi meski tak banyak kata yang keluar dari mulut mamah, hanya ada gelengan dan anggukan untuk memberi isyarat dari setiap tawaranku. Nenek pun memberi semangat untuk  mamah agar tetap bisa legowo dan sabar atas sakit yang diderita. Tak begitu lama aku berpamitan pada mamah dan Alvin. Alvin mungkin akan telat datang ke kantor untuk itu aku berangkat sendiri jalan kaki setelah mengantar nenek hingga menumpangi angkot.

Ada sms masuk ternyata percetakan tempat kami mencetak undangan telah selesai mencetak pesanan kami. Aku meminta Alvin mengantarku sepulang dari kantor. Mungkin besok sore aku mulai membagikan nya pada teman. Selasa pagi juga aku masih mengunjungi mamah Tuti, namun pagi ini tatapan mamah kosong. Selalu melihat ke arah luar jendela seakan memandang jauh ke awan.

Di antar Alvin aku memberikan surat undangan kepada beberapa temanku.Ada 10 undangan yang akan aku antar namun, ditengah perjalanan Alvin mendapat telepon dari adik nya. Dengan suara terbata-bata Rendra bilang bahwa  mamah baru saja pergi meninggalkan kita semua. Ku masukan lagi beberapa undangan ke dalam tas dan bergegas menaiki motor untuk melaju ke rumah Alvin.

Sesampainya dirumah Alvin aku sama sekali tidak bisa berbicara apapun, semua keluarga yang sudah datang menangis terisak atas kepergian mamah Tuti. Begitu pula Alvin terlihat sangat terpukul namun aku tak melihat setetes air mata jatuh dari pipi nya. Aku tahu dia sedang berusaha tegar menerima semua keadaan yang ada dihadapannya. Selepas isya aku baru pamit untuk pulang kerumah nenek.