Ucapan adalah Doa Part. 14

Sekitar dua hari aku tidak masuk ke kantor demi memulihkan badan. Cacar air yang aku derita pun sudah lumayan kempes untungnya aku kerja memakai hijab jadi dibagian tangan bisa tertutupi baju. Alhamdulillah nya di muka tak begitu banyak hanya ada beberapa titik malah terlihat seperti jerawat. Karena ini awal bulan Mei banyak dokumen dan kwitansi salinan yang harus dikirim ke Kantor Pusat. Sekalinya masuk kerjaan sangat menumpuk sekali dan Deadline harus sudah setor sebelum tanggal 7 disetiap bulan nya.

Pagi ini setelah mandi pagi dan akan berganti pakaian kerja di kamar, aku melihat sebuah bungkusan kado di atas kasur. Aku tanyakan pada nenek, nenek menjawab seolah tak tahu. Kebingungan, karena ini bukan hari ulang tahun ku juga. Siapa yang mengirim kado ini dan menyimpan nya di kamar ku. Akhirnya dengan rasa penasaran aku membuka nya, sebuah tas berwarna merah, sebungkus coklat silverqueen dan sepucuk surat. Aku baca surat nya berisikan tulisan ” Buat kamu yang cantik, cepet sehat lagi ya sayang semangat”

Tersenyum setelah membaca surat nya ternyata itu dari Alvin, tapi bagaimana bisa ia masuk ke kamarku. Hm, sudah pasti nenek terlibat dengan ini. Akhirnya pagi itu menjadi sebuah kenangan manis saat aku menanyakan perihal bagaimana Alvin menitipkan kado itu pada nenek. Aku memakai tas nya dan memasukan sebungkus coklat beserta keperluan lainnya. Sesampai nya dikantor, setelah absen lalu duduk dimeja ku Alvin menghampiri sambil menggoda ku “Tas Baru bu Dinni” sontak Laila mengalihkan pandangannya padaku, dan mata nya seakan meminta penjelasan dari ku untuk berbagi cerita dengannya.

Malam minggu tiba, Alvin mengajakku keluar seperti rutinitas malam minggu biasanya. Malam ini Alvin mengajakku makan di Alun-Alun Rangkasbitung, namun sebelum makan ia mengajakku untuk menaiki “Sepeda Cinta”. Sedikit heran sih, biasanya Alvin enggan sekali di ajak naik sepeda tapi malam ini justru dirinya yang mengajakku, dengan alasan supaya tambah lapar jadi ketika kita selesai naik sepeda bisa langsung makan dengan lahap. Belum ada satu putaran, Alvin meminta untuk berhenti mengayuh tampaknya ia mulai kelelahan. Ia bilang haus, namun penjual air mineral masih lumayan cukup jauh dari tempat kami berhenti. Alvin bilang ia memiliki beberapa bungkus permen di saku celana nya.

Aku yang menunggu Alvin sedang merogoh permen di saku celananya, mengedarkan pandangan di sekeliling ternyata kita berhenti di depan taman, tidak terlalu ramai juga. Kaget, ketika aku menolehkan pandangan lagi pada Alvin dia sedang tersenyum ke arahku sambil memegang sebuah kotak cincin. ” Din, aku mungkin gak  bisa se romantis laki-laki pada umumnya, terima kasih ya sudah menerima aku apa adanya, menerima keluarga ku juga, Aku gak bisa janjiin kehidupan yang indah bareng sama aku nanti nya. Tapi aku mohon kamu bisa percaya sama aku buat selalu berusaha bahagiain kamu. Din, kamu mau gak jadi istri aku ? “

Speechless, terharu Alvin menyentuh hatiku lagi. Mataku berkaca-kaca, dalam seminggu ini Alvin begitu memberikan perhatian penuh padaku. Aku merasa jadi wanita istimewa di hidupnya, wanita berharga dimatanya. Baru kali ini aku merasakan sangat dicintai oleh seorang laki-laki sebegini nya. Mungkin aku lebay, tapi aku tak bisa menggambarkan betapa bahagia nya hati di malam itu. Malam bersejarah bagi kami untuk memulai langkah baru menapaki jalan cerita di kehidupan kami berdua. Alvin melamarku, malam itu.