Ucapan adalah Doa Part. 12

Setelah aku bercerita kepada nenek, nenek hanya memberi saran untuk aku shalat istikarah untuk bisa mengambil keputusan dengan baik. Setelah shalat entah hanya ada bayangan Alvin dalam pikiranku. Aku berulang kali memantapkan hati untuk bisa mengambil keputusan itu. Menjelang akhir Maret akhirnya aku mengambil keputusan untuk mengiyakan tawaran Alvin. Aku menerima nya menjalani hubungan dengan status pacaran.

Di awal bulan April dia mengajak aku untuk berkunjung kerumahnya, rumahnya sederhana. Aku baru tahu bahwa Alvin adalah anak pertama dari tiga saudara yang semua jenis kelaminnya laki-laki. Dirumahnya Alvin tinggal bersama ibu dan adik bungsu nya yang umurnya beda setahun denganku. Ibu nya sangat baik, bercerita hal banyak tentang Alvin dan keluarganya. Ibu   Tuti namanya,  beliau menceritakan tentang ayah Alvin. Ayah Alvin sudah meninggal sekitar dua tahun lalu. Semenjak suami nya meninggal ibu Tuti merasa sedih karena mengurus anak-anak nya seorang diri meski ada peninggalan pensiun dari ayah.

Pak Uci nama suami bu Tuti adalah seorang pegawai di kantor Pengadilan di daerah kami, Lebak Banten. Dari penuturan cerita ibu Tuti aku tahu ibu sampai saat ini masih merasa sangat terpukul dengan meninggalnya Ayah Alvin yang mendadak karena serangan jantung. Aku melihat banyak foto keluarga yang terpajang di dinding rumahnya termasuk foto Ayah Alvin. Jika dilihat  sekilas tanpa mengenal nya sepertinya Pak Uci adalah sosok Ayah yang sangat menyayangi keluarganya. Lembut terhadap anak dan istri nya. Beruntungnya Alvin memiliki Ayah seperti Almarhum Pak Uci.

Seminggu setelah aku mengunjungi rumah Alvin, ibu Tuti masuk Rumah sakit karena diabetes nya kambuh lagi. Aku menjenguk Mamah Tuti, keinginan ibu Tuti untuk aku memanggilnya dengan sebutan mamah. Tanpa merasa keberatan aku pun mengiyakan. Alvin dan Rendra adik bungsu nya izin keluar ruangan membeli satu dus air mineral jikalau nanti ada yang menjenguk Mamah bisa disuguhkan. Ada yang membuat aku seketika menangis ketika Mamah berpesan sesuatu padaku.

” Din, kalau dinni bisa berjodoh dengan Aa Alvin mamah mohon jaga Aa ya setelah mamah gak ada, mamah titip  Aa Alvin sama Rendra tolong ingatkan Aa untuk merawat Rendra, jangan sering dimarahin ya Rendra nya. ” Aku menangis dan juga kebingungan apa yang harus aku jawab untuk setidaknya bisa menenangkan hati seorang ibu. Aku melihat derai air mata di ujung pelupuk matanya. Akhirnya aku memegang tangan tua yang terpasang infus. ” Mamah harus sehat, gak boleh bicara seperti itu, Insha Allah mah ketika Dinni ada jodoh sama Aa, Dinni akan selalu jaga semampu Dinni, mamah tenang aja ya buat Rendra sudah aku anggap seperti adik kandungku sendiri. Mamah yang semangat dan harus sehat lagi. “

Aku mengusap air mata mamah yang membasahi pipi, dan mencium kening mamah hanya berniat ingin menenangkan hati seorang ibu, memberinya semangat untuk berjuang sembuh lagi. Terdengar suara pintu dibuka aku mengusap air mata yang sudah membanjiri pipi ku. Alvin melihat aku mengusap air mata, akhirnya aku izin ke kamar mandi, Alvin memegang tanganku seakan dia menanyakan keadaanku dengan pelan aku melepas genggaman dari pergelangan tangan ku sambil aku berbisik aku baik-baik saja