Ucapan adalah Doa Part. 11

Sebulan berlalu, aku semakin dekat dengan Alvin di akhir Februari Alvin menyatakan perasaan nya padaku.  Dia bilang ingin menjalani hubungan serius denganku. Aku tak lantas mengiyakan pernyataan nya. Aku meminta waktu untuk bisa berfikir lagi. Tapi sambil kita menjalani pendekatan lagi. Alvin selalu membuat aku merasa nyaman, merasa dihargai, menjadi tempat curhat nya aku dikala aku sedang merasa sedih. Selalu membenarkan sikapku yang salah.

Seperti pernah waktu Alvin mengajakku ke rumah teman dekatnya, saat itu aku yang kelelahan habis pulang dari kantor diajak pulang bersama olehnya lalu mampir sebentar ke rumah temannya hanya ingin mengenalkan aku sebagaj wanita yang ingin dia ajak serius. Aku duduk di teras dengan membelakangi si tuan rumah yang saat itupun belum keluar. Alvin lalu menarik tanganku dengan pelan sambil dia arahkan untuk aku berdiri disampingnya.

Dijalan pulang Alvin baru menjelaskan maksudnya tadi menarik lenganku. Dia bilang tidak baik duduk di rumah orang sebelum yang punya rumah mengizinkan. Aku hanya tersenyum malu. Karena aku kelelahan pegal rasa nya kakiku karena memakai high hells.Aku berterima kasih padanya sudah mengingatkan, mungkin jika tak ditarik olehnya aku dianggap orang yang kurang sopan. Aku tak tahu tujuan nya apa membawaku ke rumah temannya. Katanya nanti seminggu lagi dia akan menceritakan nya tujuannya padaku.

Malam minggu di awal Maret Alvin mengajakku keluar untuk sekedar makan di warung lesehan. Kami memesan ayam bakar, sambil menunggu pesanan tiba Alvin menjelaskan tujuannya mengajak ku ke rumah teman nya itu. Jadi di samping ingin mengenalkan Aku pada Kak Jaka, temannya Alvin. Dia pun ingin meminta pendapat dan agar Kak Jaka membaca karakter dan sifat ku melalui nama lengkap ku. Memang aku dan kak Jaka mengobrol sedikit ada satu pernyataan, dia berkata ” Dinni dan Alvin cocok kok, kalian bisa saling melengkapi kekurangan masing-masing. Dinni ini tipe orang yang sabar sebenarnya meski dibalut dengan wataknya yang sangat keras. “

Alvin bilang memang Jaka itu bisa membaca karakter dan sifat seseorang dari muka dan nama lengkap. Ada satu alasan yang kuat yang membuat Alvin semakin ingin bisa dekat denganku hingga menjalin hubungan ke arah yang serius. Namun tak pernah dia jelaskan apa alasan nya itu. Malam minggu itu aku semakin kebingungan, entahlah aku harus menceritakan nya pada siapa. Mungkin hanya pada nenek aku bisa bercerita lagi.

Sebenarnya disamping Alvin yang mendekatiku saat itu juga aku dekat dengan beberapa laki-laki, teman sewaktu SMP bernama Ivan ia juga sedang mendekatiku dan pernah menyatakan perasaannya padaku. Tapi hingga saat ini aku belum memutuskan sesuatu karena aku tak ingin salah pilih lagi. Jujur di dalam doaku  aku hanya ingin ada seseorang yang baik, dewasa, bisa menuntut ku menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan mengajakku menikah, karena rasanya letih terus memiliki hubungan bertahun – tahun tapi akhirnya putus juga.