Ucapan adalah Doa Part. 10

Semenjak kejadian itu Alvin sekarang rajin sekali mengirim chat meski terkadang aku jarang membalasnya. Karena jika malam hari aku menyelesaikan banyak tugas kampus yang berhubungan dengan Tugas Akhir. Aku jahat sih kadang selalu acuh juga ketika disapa dikantor olehnya. Sebenarnya aku agak risih sekali karena sering nya ia mengirim chat padaku.

Ketika sedang merapikan beberapa lembaran tugasku, ada sebuah pesan masuk itu dari Deni temannya Rangga. Deni bilang bahwa Rangga di rawat dirumah sakit karena Tipes, ia juga meminta aku untuk menjenguknya. Tak ku balas pesan itu, aku merasa bingung sekali harus kah aku datang menjenguk nya sedangkan aku juga belum hapal lokasi nya, dan lagi pula aku tak seberani itu datang sendirian kesana hanya demi Rangga. Rasa kecewaku pada nya masih belum hilang.

Entah angin apa aku malah membalas chat dari Alvin dan menceritakan ke bingungan ku padanya, hanya sekedar meminta saran. Alvin menawarkan diri ingin mengantarkan aku ke Rumah sakit tersebut, asalkan aku tahu rute nya. Dulu aku belum mengenal Google Maps, atau mungkin juga di tahun 2014 belum ada. Ah entahlah aku belum bisa memutuskan untuk pergi atau tidak. Mungkin jika aku bercerita pada nenek besok pagi, akan bisa dengan mudah memutuskan untuk pergi atau tidak.

Esok harinya sambil aku sarapan aku menceritakan semua nya pada nenek termasuk tawaran Alvin juga. Nenek bilang ” Udah lah neng, buat apa masih dicari udah bikin kamu kecewa juga. Udah gak usah pergi ya nurut sama mbah. ” Dan akhirnya aku memutuskan untuk tidak pergi lagi pula mungkin disana sudah ada yang menunggu Rangga saat sakit termasuk wanita itu.
Dan aku mengirimkan chat pada Alvin, tidak jadi pergi karena kebetulan itu hari Minggu Alvin malah berencana ingin main kerumah nenek malam nanti.

Akhirnya ku izinkan saja Alvin untuk mengunjungi rumah nenek sekalian ku kenalkan dengan nenek dan pamanku. Malam hari nya Alvin datang kerumah sekitar pukul 19.00 WIB. Alvin sangat culun sekali dengan celana bahan warna hitam dan sweater rajut, rambutnya pun klimis sekali malah terlihat seperti bapak-bapak. Padahal saat di acara makan bersama itu   gaya berpakaian nya menarik perhatian ku dengan menggunakan celana pendek cargo dan hoodie.

Atau mungkin karena akan bertemu juga dengan nenek jadi pakaian nya lebih sopan lagi. Tapi ini sangat menggelitik sekali membuatku tak berhenti tertawa sendiri, saat membuatkan minuman untuknya. Nenekku dan Alvin duduk diteras sambil berbincang, Alvin  tidak begitu kaku seperti Rangga. Terlihat ia bisa berbaur dengan nenek dan pamanku yang baru saja datang membawakan cemilan pisang rebus untuk nenek.