Ucapan adalah Doa Part. 1

Sehat itu MasyaAllah ya nikmat yang paling tiada terkira bagi orang- orang yang sedang berjuang melawan sakitnya untuk bisa sembuh. Dari ujian sakit yang Allah SWT sudah takdirkan dalam hidup, kita bisa belajar semakin bersyukur dan menghargai waktu sehat kita. Sejak memasuki Sekolah Dasar aku memang sudah mengalami masalah pencernaan, susah sekali untuk makan jikalau lauk pauk tak cocok dengan selera makanku. Sering nya menahan perih sakit perut tapi ya namanya anak kecil saat itu tak mengerti kalau itu sakit maag.

Pernah juga teringat cerita ibuku, katanya sewaktu aku berusia 4 bulan aku menangis tiada henti meski sudah disusui oleh ibu. Saat itu ibu masih tinggal bersama nenekku, orangtua dari ayah. Zaman dulu masih kurang begitu paham  bahwa anak bayi yang terus menangis itu menandakan bahwa si anak lapar. Padahal banyak faktor selain lapar. Karena menangis salah satu cara bayi berkomunikasi, bisa jadi bayi menangis itu karena kolik. Jadi di usia ku 4 bulan sudah diberi makan oleh ibu sesuai anjuran nenek. Makanan yang diberipun bukan hanya pisang tapi tapai yang dikukus. Kebayang kan belum cukup umur untuk MPASI aku sudah diberi makan tapai kukus, mungkin ini juga menjadi salah satu faktor aku memiliki masalah dalam pencernaan.

Semakin beranjak besar umur pun bertambah aku mulai menyukai banyak makan, tak memilih menu makanan lagi. Setiap apapun yang ibu hidangkan aku makan penuh rasa syukur karena keadaan ekonomi kita yang saat itu sangat kekurangan. Aku tak pernah menuntut untuk makan sesuai keinginanku, karena aku merasa kasihan pada ibuku yang saat itu menjadi tulang punggung keluarga. Ayahku sudah tak berdagang lagi, dan tidak memiliki penghasilan tetap. Walaupun ada uang ayah sudah tak pernah memberi uang pada ibu, apalagi ketika ibu bekerja sebagai GBS ( Guru Bantu Sekolah).

Pernah di waktu SMK aku sengaja tak makan saat istirahat untuk mengumpulkan uang karena aku ingin membelikan kado untuk ibuku di hari ulangtahun nya aku ingin memberikan kue tart. Aku mengisi istirahat dengan membaca buku namun tiba-tiba rasa dada seperti terbakar hingga ke leher. Seketika aku kesulitan bernafas, dadaku serasa ditekan dengan alat berat. Sesak sekali rasanya. Sekujur tubuh penuh dengan keringat dingin aku meminta temanku untuk mengantarku ke guru piket izin untuk pulang. Aku di antar ke rumah nenek. Dadaku terasa semakin sakit sekali, entah pikiranku semakin jauh aku memikirkan mungkin kah ini akhir hidupku. Sesampainya dirumah nenek aku hampir pingsan nenek dan temanku membopong aku masuk dan duduk disofa.

Nenek dengan sigap mengambil minyak kayu putih dan koin  bergegas untuk mengerik punggung hingga dadaku. Sedangkan temanku kembali ke sekolah. Aku terus berdoa sambil menangis menahan rasa sakit. Yang ada dipikiranku aku tidak ingin ini menjadi akhir hidupku, karena aku memikirikan ibu dan adikku yang belum bisa kubahagiakan. Nenek memberi minum hangat dan aku disuruh berbaring jika bisa memejamkan mata untuk tidur. Aku beristigfhar lalu tertidur. Ketika aku buka mata nenek dan ibuku sudah ada disebelahku. Mungkin ketika aku tertidur nenek menyusul ibuku yang sedang mengajar tidak jauh dari rumah nenek.

Esok harinya aku dibawa berobat ke Rumah Sakit Umum yang ada di daerah kami. Aku di rujuk ke poli jantung lalu melewati rangkaian pemeriksaan jantung hingga EKG. Hasilnya normal dan baik. Penyebab nya mungkin karena asam lambungku yang naik. Aku sempat di tanya oleh dokter apakah aku punya banyak pikiran. Aku mengatakan tidak padahal memang aku sedang banyak pikiran terlebih tentang ayahku. Aku merasa tertekan sekali karena beberapa waktu lalu ayahku memaki, berkata kasar bahkan membicarakan kejelekan ibuku pada teman ayah yang sedang main kerumah. Saat itu ibu belum pulang kerja, aku menjadi saksi bagaimana kerja keras ibuku disalah artikan oleh ayahku. Aku cuma bisa diam mendengarkan setiap obrolan itu yang mungkin dengan sengaja ayahku menjelekan ibu pada temannya. Aku cuma bisa berlinang air mata.