TRAUMA

Apa itu trauma? Kenapa banyak orang menggunakan istilah trauma? Trauma adalah hal sering dikaitkan dengan tekanan emosional dan psikologis yang besar, biasanya karena kejadian yang sangat disayangkan atau pengalaman yang berkaitan dengan kekerasan.

Ketika bekerja di bidang kesehatan, sering pasien datang ke ruangan dengan klinis (diagnosa) trauma tumpul. Trauma tumpul bisa dikatakan benturan ataupun pukulan dari benda tumpul/keras/kasar sehingga di khawatirkan menimbulkan luka/cedera terhadap jaringan tubuh.

Namun secara umum di masyarakat luas, istilah trauma biasanya lekat dengan aspek psikologis atau kejiwaan seseorang. Trauma psikologis adalah kerusakan atau cedera jiwa setelah mengalami peristiwa yang sangat menakutkan atau menyedihkan.

Sering kita mendengar seseorang menyatakan dirinya trauma akan sesuatu peristiwa. Ada yang trauma dengan jalan menanjak karena pernah mengalami ketika berada di jalan yang menanjak, kendaraan yang dinaiki remnya blong sehingga kendaraan tersebut meluncur bebas ke bawah.

Bahkan sekarang juga ada yang trauma bila bertemu seseorang karena tiap bertemu, orang tersebut selalu buang muka atau lebih ekstrimnya lagi memberikan pengalaman buruk/tidak menyenangkan bagi dirinya.

Sesungguhnya trauma yang harus dihindari adalah trauma masa kecil. Trauma yang terjadi ketika kita masih kecil, terekam di alam bawah sadar kita. Bahayanya adalah ketika mempunyai anak bayangan trauma itu muncul dan menimbulkan trauma baru ke anaknya. Terus saja berputar seperti itu, membuat lingkaran trauma tak kunjung usai.

Sebagai contoh, ketika masih kecil mendapat perlakuan kekerasan dari orang tua. Pada saat mempunyai anak, dia akan melakukan kekerasan juga ke anaknya karena itulah yang terekam di alam bawah sadarnya cara bersikap ke anak.

Perlu diketahui kekerasan yang dimaksud bukan hanya kekerasan fisik saja tapi juga termasuk kekerasan verbal, keduanya sama bahayanya. Kata-kata menyakitkan pun dapat terekam dengan baik di otak. Dikhawatirkan akan berulang kembali ketika si anak sudah menjadi orang tua. Akhirnya menimbulkan trauma baru ke anaknya.

Sekarang yang terpenting adalah bagaimana kita sebagai orang tua bersikap sehingga tidak menimbulkan trauma bagi anak kita. Cukup putus rantai trauma sampai di diri kita saja. Berani terima tantangan ini?

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie