Tragedi Mudik di Tengah Corona

Sumber, gambar foto.co

Tahun ini giliran kami sekeluarga lebaran di rumah Bunda. Ada kesepakatan tidak tertulis bahwa anak-anak bunda yang sudah berkeluarga harus bisa membagi waktu bersama keluarga besarnya. Tahun ini lebaran idul Fitri di rumah orang tua dan tahun berikutnya di rumah mertua.

Dari tiga orang bersaudara, kakakku yang pertama tinggal di Kairo beserta kelurganya menyelesaikan studi. Adik saya yang semata wayang masih kuliah di Jogja. Kakak dan adik saya otomatis tidak  bisa berkumpul tahun ini karena dampak corona. Saya yang kemungkinan besar bisa menemani Bunda.  Lagi pula yang paling dekat jarak rumahnya dengan rumah bunda. Walaupun sebenarnya berbeda kabupaten dan ditempuhnya sekitar 4 jam jika kondisi jalan dalam keadaan lancar.

Informasi tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di setiap propinsi dan kabupaten sudah tersiar dimana-mana, termasuk ke tempat Bunda. Cara pemerintah mengadakan PSBB adalah cara paling ampuh untuk saat ini. Tujunnya untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona. Sebagai warga yang baik kami pun mematuhinya. Hingga saat bertemu tetangga semalam yang baru datang dari luar daerah. Dia menceritakan bahwa PSBB itu penanganannya setengah hati. Banyak kendaraan yg bisa lolos ke luar daerah.

Cerita tetangga itu menjadikan kami sekeluarga berangkat ke rumah Bunda di malam hari untuk lebaran. Bunda tidak tahu kalau kami berangkat. Sengaja sih untuk membuat surprise. Walau sempat ada perdebatan kecil antara saya, anak-anak, dan suami. Tetapi akhirnya berakhir dengan sebuah kemufakatan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Berarti sudah 3 jam lamanya kami berada di jalan Raya. Seperti biasanya kalau lancar maka kami akan tiba di rumah Bunda sejam lagi. Kulihat anak-anak tertidur pulas di jok belakang dengan boneka di pelukannya. Sabar ya, Nak. Sebentar lagi kita akan tiba di rumah nenekmu. Ucapku dalam hati.

Tiba-tiba HP ku berbunyi. Mataku terbelalak membaca nama yang tertulis memanggil. “Bunda” . Sejenak kupandangi Mas Syam untuk meminta persetujuan darinya. Dia menyarankan untuk menerima panggilan bunda. Dengan hati-hati ku geser ikon menerima panggilan.

“Sudah bangun belum, bunda khawatir kalian kesiangan makanya bunda telfon”.

“Sudah Bunda”. Jawabku dengan setengah takut karena berbohong kepada bunda. Bunda terus menanyakan masakan apa yang dipersiapkan untuk sahur. Anak-anak jangan lupa dibangunkan lebih cepat agar tidak terburu-buru makannya.

Aku hanya mengiyakan semua perkataan bunda

“Satu lagi Tiwi yang Bunda ingatkan, Kalian tidak usah memikirkan bunda di sini. Apalagi berniat mau datang. Jangan sama sekali. Sekarang ini kita harus melakukan syariat untuk tidak mudik. Bunda juga tidak kemana- mana karena takut bertemu dengan orang lain. Kita kan tidak tahu apakah dia terinfeksi Corona atau tidak. Jadi sekali lagi sampaikan ke Mas Syam agar kita semua harus bersabar. Berdoa agar virus ini cepat mereda dan kita bertemu semua tanpa ada rasa curiga.

Mas Syam menepikan mobilnya. Kami berdua saling pandang dalam kebingungan. Bagaimana ini, apakah tetap dilanjut atau balik arah ? Di tengah kebingungan, tiba- tiba datang dari belakang mobil patroli yang langsung berhenti di depan kami.

“Maaf Pak kami menggangu. Kalau boleh tahu mengapa Bapak berhenti di sini. Ini termasuk daerah yang sangat rawan pembegalan” kata Pak Polisi setelah menyuruh kami membuka kaca jendela mobil.

“Apakah mobil Bapak mengalami kerusakan ? Tanyanya kembali sambil melihat ke ban mobil kami dan mengintip jok belakang”.

“Kendaraan kami aman, Pak. Kami rencana mau pulang kampung”Jawab Mas Syam

Setelah memeriksa surat-surat kendaraan dan identitas kami, Bapak Polisi yang berbadan tinggi besar itupun menyuruh kami untuk balik arah..kami dilarang melanjutkan perjalanan sesuai PSBB. Karena mobil patroli terus mendesak agar kami balik arah, terpaksa kami turuti.

Di sepanjang jalan kami berusaha mencari warung makan yang kira-kira buka di malam hari. Ataupun toko untuk sekadar membeli sesuatu yang bisa dimakan untuk santap sahur. Tapi tak satupun kutemukan. Karena waktu sudah 04.00 sementara masih satu jam lebih baru tiba di rumah, dengan sangat terpaksa berbekal air minum dan sisa cemilan anak-anakku, kami pun sahur di tengah jalan. Anakku yang baru berusia 6 tahun terus merengek agar sahur di rumah neneknya. Hatiku sangat sedih karena rencana mudik begitu tragis hasilnya. Anak-anakkupun harus menerima akibat dari ketidakpatuhan ku mengabaikan himbauan pemerintah.

Nubarnulisbareng/utyagusriati

Pak polisi