TRAGEDI DI PAGI HARI

Pagi ini seperti biasa, Sarah dan suaminya bersiap berangkat bekerja. Selesai sarapan dan mencuci semua piring dan gelas kotor, Sarah bergegas masuk kamar untuk berganti pakaian. Semua harus dikerjakan dengan cepat agar tidak terlambat.

Saat sedang memasang peniti untuk kerudungnya, sayup terdengar suara orang minta tolong.

“Mas, kamu dengar gak?” tanya Sarah ke suaminya.

“Dengar apa?” mas Sam balik bertanya.

“Ada suara orang minta tolong,” jelas Sarah.

Mereka berdua berusaha menajamkan pendengaran.

“Seperti suara oma Pur, rumah sebelah Mas. Ayo kita lihat Mas!” ajak Sarah agar suaminya bergegas.

Benar saja, dari luar, arah datangnya suara semakin jelas dari rumah oma Pur. Tampak pintu utama rumah terbuka, sedangkan gerbang pagar terkunci. Dengan sigap mas Sam memanjat pagar rumah oma Pur.

“Oma, Oma!” seru mas Sam sambil terus masuk ke dalam rumah oma Pur.

Sarah hanya menunggu di luar dengan cemas. Berbagai pikiran terlintas di kepalanya membayangkan keadaan oma Pur. Sarah terus berusaha mengenyahkan segala kemungkinan buruk.

“Saya terkunci di kamar mandi, tolong,” suara oma Pur terdengar melemah.

“Oma, geser ya? Jangan dekat pintu, saya mau dobrak pintunya!” seru mas Sam sambil mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar mandi.

Braaak! Akhirnya pintu kamar mandi berhasil didobrak oleh mas Sam. Segera mas Sam membantu oma Pur keluar dari kamar mandi.

“Alhamdulillah, ya Allah. Terima kasih ya Mas Sam. Allah kirim kamu untuk menyelamatkan nyawa saya. Saya sudah hampir kehabisan napas di dalam. Sudah lama saya teriak minta tolong tapi tak ada yang mendengar,” ucap oma Pur sambil menangis.

“Iya, maaf Oma. Kami baru mendengar suara Oma ketika kami ada di kamar,” jawab mas Sam dengan rasa bersalah. “Pamit ya Oma, maaf gak bisa lama-lama, mau berangkat kerja,” sambung mas Sam undur diri.

“Ya, saya buka kunci pagarnya dulu. Alhamdulillah, kamu tanggap memanjat pagar rumah Oma,” sahut Oma Pur sambil kembali menangis.

Sarah menyambut mas Sam di luar dengan wajah penuh tanda tanya. Namun mas Sam memberi kode, nanti saja ceritanya. Sarah pun mengerti dan segera berpamitan pula dengan oma Pur.

Diperjalanan mas Sam menceritakan semua yang terjadi di dalam rumah. Sarah bersyukur, mereka berdua mendengar teriakan minta tolong dan dapat menolong oma Pur dengan mudah. Semua tentu dengan pertolongan Allah. Sarah bergidik membayangkan seandainya pintu rumah oma Pur juga dikunci. Tentu akan sulit bagi mas Sam mendobrak pintu setebal itu.

Sore harinya ketika pulang bekerja, Sarah dan mas Sam mendapati oma Pur sedang di luar rumah.

“Oma, lagi santai nih sore-sore di luar?” ujar Sarah basa-basi.

“Oma lagi nungguin kalian pulang kerja kok!” jawab Oma Pur.

“Lho, ada apa Oma?” Sarah tampak heran. Tak biasanya oma menunggu mereka pulang.

“Tunggu sebentar,” pinta oma Pur. Tak lama oma Pur keluar dengan sepiring penuh aneka macam buah-buahan. “Harus diterima ini sebagai ucapan terima kasih. Kalau gak ada kalian, saya mungkin sudah mati.” ujar oma Pur sedikit terbata.

“Ya Allah Oma, gak perlu repot. Kita bertetangga memang harus saling tolong,” sahut Sarah sungkan.

“Tidak, ini beda. Urusannya nyawa. Tolong diterima ya?” pinta oma sekali lagi.

“Baik Oma, kami terima. Terima kasih ya Oma, sudah repot-repot beli buah buat kami. Padahal yang kami lakukan bukan apa-apa loh. Memang hal yang seharusnya dilakukan setiap orang. Oh ya Oma, kalau boleh usul. Mulai sekarang kalau di kamar mandi, pintunya gak perlu dikunci. Cukup dirapatkan saja. Toh gak ada siapa-siapa di rumah Oma.”

“Iya benar kamu Sarah. Mulai sekarang Oma akan begitu. Tak perlu kunci pintu, cukup dirapatkan saja. Terima kasih ya Mba Sarah, Mas Sam.”

“Mari Oma, kami pamit masuk rumah dulu. Terima kasih ini buah-buahannya ya Oma.”

“Ya … ya, saya yang berterima kasih.”

“Iya, sama-sama Oma,” kata Sarah berusaha mengakhir percakapan.

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie