Tradisi Megengan sebagai Pengingat Kewajiban Menahan Hawa Nafsu di bulan Ramadan

Foto: muslimoderat.com

Kamis, 30 Sya’ban 1441 Hijriah, seorang adik sepupu datang ke rumah saya bersama suaminya. Beliau berdua mengantarkan bingkisan makanan dalam rangka selamatan menjelang bulan Ramadhan.

Saya ingat-ingat, berkat (bingkisan makanan) dari adik sepupu ini adalah berkat ke-15 yang sampai di rumah saya. Empat belas berkat lainnya berasal dari para tetangga dan teman-teman yang sudah terlebih dulu mengadakan selamatan megengan.

Asal-Usul Selamatan Megengan

Tradisi megengan berasal dari kata megeng yang artinya menahan. Tradisi ini merupakan ungkapan syukur dan suka cita menyambut bulan suci Ramadhan. Tradisi ini sekaligus pengingat untuk menahan diri dari hawa nafsu yang menyesatkan.

Menurut Prof. Dr. Nur Syam, M.Si dalam artikel beliau yang berjudul Tradisi Megengan di Jawa (nursyams.uinsby.ac.id), tradisi megengan diduga kuat diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Upacara selamatan  ini merupakan akulturasi budaya Jawa dan ajaran agama Islam.

Megengan awalnya merupakan budaya lokal masyarakat Jawa yang mempersembahkan sesaji untuk para leluhur. Pada zaman dahulu, masyarakat Jawa mengadakan tradisi sesajen di bulan Ruwah (penanggalan Jawa, atau bulan Sya’ban dalam penanggalan Hijriah). Tradisi ini bertujuan untuk menghormati arwah leluhur yang sudah mendahului mereka. Kangjeng Sunan Kalijaga kemudian merubah tradisi ini menjadi sedekah makanan untuk dibagikan kepada sanak saudara dan para tetangga.

Kue Apem yang Istimewa

Foto: selerasa.com

Di dalam tradisi megengan, ada salah satu jenis kue yang tidak boleh ketinggalan. Kue ini bernama apem. Kue apem berbahan dasar tepung beras dan santan. Dalam perkembangannya, ibu-ibu menambahkan fermipan untuk membuat adonan kue ini lebih mengembang.

Adonan kue apem kemudian dipanggang di atas cetakan logam berbentuk bulat. Ada juga yang digoreng di atas wajan kecil tanpa minyak atau cukup dikukus hingga matang. Model pakem kue apem berbentuk bulat atau diwadahi cone dari daun pisang.

Kue apem berbentuk cone yang mirip es krim ini disebut sebagai apem conthong. Kata conthong merujuk pada bentuk cone-nya yang dalam bahasa Jawa disebut conthong. Apem conthong diolah dengan cara dikukus di dalam dandang (panci penanak nasi). Dalam perkembangannya, ibu-ibu lebih senang membuat apem dalam berbagai variasi bentuk yang menarik.

Pemberian nama apem diadaptasi dari bahasa Arab afwan, yang artinya maaf atau ampunan. Kue apem disimbolkan sebagai permohonan ampun kepada Yang Maha Kuasa, juga sebagai permintaan maaf kepada sesama atas kesalahan yang telah dilakukan selama ini. Dengan harapan, agar dalam menjalankan ibadah puasa, hati dan pikiran merasa lapang karena telah diampuni oleh Allah swt.

Berkat megengan dan kue apem di dalamnya, dibagi-bagikan kepada tetangga dan kerabat setelah dibacakan tahlil dan istighotsah secara berjamaah. Hal ini bertujuan agar makanan tersebut mendapat keberkahan dari kalimat-kalimat thoyibah yang telah dibaca bersama-sama.

Namun, dalam situasi pandemi seperti sekarang ini, umumnya berkat megengan hanya didoakan oleh si Pemilik Rumah, kemudian dibagi-bagikan kepada tetangga sekitar.

Demikianlah tradisi menyambut Ramadhan di daerahku.

Apa, nih, tradisi menyambut Ramadhan di daerah teman-teman?

Rumahmedia/ nurlafiy

Sumber: www.emakmillenial.com