Taubat Jadi Pejuang Mepet Deadline

Taubat Jadi Pejuang Mepet Deadline

Pernah terjebak dalam keadaan deadline nulis sudah di depan mata tetapi tugas yang harus disetorkan lebih dari satu tetapi belum satu pun yang selesai? Pernah mengalami sudah menulis naskah buru-buru tetapi saat mau di “save” malah memencet tombol “delete”? Atau saat di menit-menit terakhir alias injury time deadline, kita mau setor naskah tetapi komputer tiba-tiba error atau flash disk tempat menyimpan naskah tulisan tiba-tiba hilang tak tentu di mana rimbanya?

            Kalau pernah, artinya itu kode keras, Sobat! Peringatan bahwa sudah waktunya kita “hijrah”. Taubat. Dari kebiasaan buruk ke kebiasaan yang lebih baik. Berubah, sebelum terlambat.

            Sulit? Sibuk? Nggak ada waktu luang? Ya, sudah. Balik kanan. Berhenti menulis. Mudah, bukan? Tidak usah berharap jadi penulis yang bakalan beken, jika profesi menulis masih dijadikan profesi sampingan atau sekadar hobi pengisi waktu luang.

            Apa? Masih ingin nulis? Jangan banyak alasan kalau begitu. Tinggal manajemen waktu menulisnya saja yang perlu diatur ulang. Siap?

            Pertama. Saat memutuskan untuk mengikuti suatu proyek nulis dengan tema tertentu yang dirasa cocok, segera amankan ide yang kita punya saat itu. Tulis di buku saku,di note ponsel, atau fasilitas nulis termudah dan terdekat yang gampang diakses saat itu juga.

            Kedua. Catat masing-masing tanggal deadline proyek nulis yang diikuti. Jangan senang melakukan kebiasaan membuat emoticon terkejut di grup, mengatakan dengan polosnya kalau baru sadar deadline sudah di titik yang paling kritis, sudah lewat dari deadline atau komentar-komentar tidak profesional lainnya. Hal itu selain mempermalukan harga diri dan nama baik kita, orang-orang satu proyek terutama leader akan mendadal illfeel pada kita, lho.

Ketiga. Saat memutuskan ikut suatu proyek nulis karena kita memiliki bahan tulisan yang sesuai dengan tema atau judul proyek, segera eksekusi. Selesaikan segera sekalipun deadline masih lama. Biar tenang, setelah beres, diamkan dulu beberapa hari. Buka lagi, edit-edit lagi, lalu segera kirimkan ke leader proyek nulis tersebut. Jangan menunda-nunda terus menerus. Tidak aneh jika beberapa saat menjelang deadline, karena panik kita belum menyelesaikan tulisan, otak mendadak “blank”, lupa lagi mau nulis apa dulu waktu memutuskan ikut proyek. Nah!

Keempat. Masih belum bisa eksekusi karena belum ada waktu luang? Yakin? Tidak ada waktu atau memang “tidak mau menyempatkan”? Ya, jangan ikutan proyek nulis kalau begitu. Buat apa menyusahkan dan menyiksa diri? Kalau merasa tidak sanggup, tidak usah memaksakan diri ikutan proyek.

Tetapi kalau Sobat masih mau terus bergabung di suatu proyek nulis, coba perbaiki manajemen waktunya. Jika Sobat ikutan nulis di Nubar-Nulis Barengnya Rumedia, itu minimal nulis hanya 2 halaman seukuran A4 dan maksimal 4 halaman A4. Sedikit, kan? Bisa dicicil sehari, selama lima belas sampai tiga puluh menit, tulis dua, tiga paragraf. Dua atau tiga hari, selesai deh itu naskah. Nggak pakai lama. Apalagi butuh waktu berminggu hingga berbulan-bulan lamanya. Seorang penulis yang rajin berlatih, bahkan bisa menulis hingga 3-5 artikel selama dua jam untuk jumlah kata 300-500 kata per artikel. Mustahilkah? Nggak, dong. Everything is possible when we have a strong willing. It’s a piece of cake. Yang penting kuasai bahan materinya.

Terakhir. Jangan lupa self editing-nya. Buat tulisan yang rapi. Jangan mengirim cepat-cepat tapi isi berantakan dan tidak sesuai aturan yang ditetapkan proyek yang diikuti. Lagi-lagi bisa bikin leader proyek atau editor illfeel sama kita, lho.

Bagaimana? Bisa untuk dicoba? Mungkin akan terasa berat pada awalnya. Tetapi tidak mustahil untuk diterapkan. Di mana ada kesungguhan dan tekad yang kuat, maka di situ pula ada jalan. Jadilah penulis profesional yang dikenal karena kedisiplinannya dalam bekerja, bukan dikenal sebagai pejuang deadline yang suka bikin leader-nya illfeel hingga harus minum parasetamol berkali-kali.

So, selamat ber”hijrah”. Stop being a deadliners and start to be a great writer!

Salam literasi.

***

Rumahmediagrup/rheailhamnurjanah

2 comments