TIME WILL HEAL

Malam ini ditemani suami, aku mengantar puding pesanan pelanggan. Malam-malam? Iya, karena yang mau dikasih kejutan adalah seorang perawat ICU yang mendapat jadwal dinas malam. Seperti yang kita ketahui bersama kalau dinas malam itu mulai dinasnya jam 9 malam.

Kebetulan rumah sakitnya adalah rumah sakit yang masih menjadi area tanggung jawab suamiku. Oh ya, sekedar informasi kalau suami bertugas sebagai tenaga aplikasi dari salah satu perusahaan penyedia alat laboratorium di Indonesia. Tugasnya memberi training cara pemakaian alat dan problem solving alat.

Setelah mengantar pesanan ke ruang ICU di lantai 4, kami bergegas pulang. Ya, masih ada pesanan dua loyang lagi untuk besok pagi. Harus segera dimulai malam ini agar selesai tepat waktu.

“Mas Fahri?!” seru salah seorang di depan pintu lift. Sepertinya ia mengenali suamiku. “Mas, mampir ke lab dulu yuk,” ajaknya.

Akhirnya kami berpisah, aku lebih memilih menunggu di mobil daripada ikut suami bekerja dadakan. Sambil menunggu aku mencoba membuka gawai dan membalas pesan-pesan.

Nguing … nguing … nguing ….

Terdengar jelas suara ambulance lewat di depanku. Jantungku berdebar, sambil menarik napas dalam, aku mencoba mengingat, kenapa rasanya selalu sakit jika mendengar suara ambulance.

Ah ya, memori 24 tahun silam. Ketika aku mengantar ayahku ke peristirahatan terakhirnya. Iring-iringan ambulance dan mobil pengantarnya, tampak jelas di ingatanku. Saat itu hanya kesedihan yang terasa. Terlebih akulah yang berada di samping ayah ketika dia pergi untuk selamanya.

Semenjak itu, setiap mendengar ambulance dan melihat iring-iringan mobil jenazah aku selalu terdiam. Flash back kejadian yang lalu, bagai memutar kembali film kenangan. Sayangnya bukan kenangan indah.

Bersyukur saat ini sudah tidak sesakit dulu. Kalau dulu, aku bisa tiba-tiba menangis kalau melihat mobil jenazah. Sekarang sudah bisa lebih tenang, hanya sedikit berdebar.

Mungkin benar kata orang. Waktu adalah obat yang paling mujarab. Seiring berjalannya waktu, maka perih akan berkurang. Walau tak mungkin menghilang.

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie