TIDAK TAKUT LAGI

Malam Ramadhan di kampungku terasa sepi. Itu dikarenakan penduduknya memang sedikit, Bangunan rumah masih bisa dihitung jari mungkin tidak sampai 15 atap. Suatu malam, ayah tidak bisa hadir untuk menjadi Imam shalat tarawih dan kala itu belum ada yang bisa menggantikan menjadi Imam. Semangatku sedang memuncak ingin melaksanakan shalat tarawih dikampung sebelah saja.

Kuajak 2 sepupuku untuk pergi bersama. Karena orang dewasa lebih memilih beribadah di rumah saja. Takut. Ya aku masih penakut. Bayangan hantu biasanya menjadi sosok yang membuatku ciut untuk melangkah. Tapi, mau sampai kapan aku terus dihantui oleh perasaanku sendiri. Karena seringnya hantu itu tidak ada, semua hanya pikiranku saja. Ketakutan ini disebabkan karena aku sering ditakut-takuti dengan hantu oleh orang-orang sekitarku dan karena sering nonton film horor. Meski beberapa kali memang pernah terlihat nyata didepan mata.

Tak ada izin dari orangtua akhirnya sepupuku memutuskan untuk tidak pergi. Sebenarnya akupun dilarang untuk pergi karena orangtua khawatir kondisi jalan sepi dan gelap melewati jembatan dan kuburan. Namun aku tetap memilih untuk berangkat malam itu.

Sumber foto : Google

Ada satu surat dalam Al-Quran yang membuatku yakin bahwa Rabb semesta alam akan melindungiku. Surat An-nas. Sebelum melangkah kubaca terlebih dahulu surat itu lengkap beserta artinya. Menanamkan kedalam pikiran kalimat positif yang membuatku menjadi berani melawan kegelapan dan ketakutan. Serta berlindung kepada Allah swt dari godaan syaitan dan was-was.

Berikut bacaan surah an-Nas dalam tulisan arab dan latin, beserta terjemahannya:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ
qul a’ụżu birabbin-nās

مَلِكِ النَّاسِۙ
malikin-nās

اِلٰهِ النَّاسِۙ
ilāhin-nās

مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ
min syarril-waswāsil-khannās

الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ
allażī yuwaswisu fī ṣudụrin-nās

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
minal-jinnati wan-nās

Artinya:

  1. Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia,
  2. Raja manusia,
  3. sembahan manusia,
  4. dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi,
  5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
  6. dari (golongan) jin dan manusia.”

Aku bacakan surat itu sepanjang perjalanan diiringi degup jantung yang semakin kencang menahan rasa takut.

Kumulai melangkahkan kaki menembus gelap menyusuri jalan setapak diantara hamparan kebun palawija, melewati kebun bambu yang dibawahnya terdapat mata air, jembatan kayu yang bergemuruh oleh aliran air sungai membuat suasana semakin menegangkan. Langkah terasa lebih lambat padahal sudah kumaksimalkan untuk jalan lebih cepat. Dalam gelap, aku sudah berada jauh dari kampungku serta jauh dari kampung yang akan kutuju. Sudah setengah jalan aku melangkah, kali ini kuburan yang akan kukewati dalam gelapnya malam. Jantungku semakin berdegup kencang. Tak ada yang bisa kulakukan selain terus melangkah dengan terus memberanikan diri.

Malam itu aku pergi ke masjid dan pulang lagi kerumah dalam keadaan selamat dan bahagia.

Tak kusangka perjalanan tarawih yang menegangkan malam itu menjadi pengalaman tak terlupakan sekaligus awal dari tumbuhnya rasa berani, ketakutan akan sosok tak kasat mata perlahan memudar.

Setiap aku takut maka aku bacakan surat An-nas. Maka menjadi tenanglah hati.

Nubarnulisbareng/Titin Siti Patimah