TIDAK MEMAHAMI KARENA TAK MENGALAMI

Sebuah pengalaman terkadang menjadikan seseorang lebih bijaksana menyikapi sesuatu. Orang yang pernah berpuasa pasti tahu rasanya lapar. Orang yang pernah terluka pasti tahu rasanya sakit. Oleh karenanya, bagi seseorang yang sudah mengalami suatu kejadian khususnya yang menyedihkan pasti akan memahami bagaimana ada pada posisi sedih. Sikap yang ditunjukkan pun akan berbeda dengan orang yang tidak mengalami.

Seperti contoh yang berpuasa tadi, seseorang yang mengerti pasti akan segera memberikan setidaknya segelas minuman bagi orang yang sedang berpuasa saat tiba waktu berbuka di kala maghrib tiba. Tidak akan menganggapnya berlebihan jika saat berbuka puasa, kelihatan tampak lapar dan makannya lahap. Orang yang memahami akan mendukung apapun karena pernah merasakannya.

Memang bagusnya, seseorang sampai pada tahap memahami walau tak mengalami namun ini tentu tidak sembarang orang yang bisa begini. Ilmu dan karakter baik biasanya melatarbelakangi sikap seseorang bisa peka dan paham akan situasi orang lain. Bagi yang kurang ilmu atau tabiatnya buruk tentu bukanlah hal yang mudah untuk menunjukkan sikap mengerti, memahami dan merasakan perasaan orang lain.

Sebagai contoh, ada orang yang punya anak selalu mencela orang lain yang tidak bisa atau belum punya anak. Adakalanya malah sengaja berbangga diri memamerkan kehebatannya bisa memiliki anak apalagi anaknya banyak. Ia tidak paham bahwa betapa sedihnya seseorang yang menanti kehadiran bayi dan betapa sulitnya perjuangan yang sudah dilakukan untuk menghadirkannya namun kehendak Tuhan belum juga mengabulkan. Hamil dan memiliki anak bukanlah seperti membuat kue tinggal beli bahan dan mengolahnya lalu tring …jadilah kue. Padahal andai orang yang mencela berada di posisi yang dicelanya belum tentu tingkat ketabahannya sama. Jadi begitulah, yang tidak mengalami memang akan sulit memahami.

Saya yang sedari kecil merasakan anehnya banyak masalah terkadang putus asa mengapa merasa berbeda dengan kehidupan orang lain. Dulu, tidak mudah menemukan orang yang memahami. Orang tua yang bercerai menyebabkan saya sering merasa iri atau minder saat melihat keluarga yang harmonis utuh terlihat bahagia. Saya tak mengerti itu namanya luka batin. Saya sering dilanda gelisah tanpa sebab. Saya sensitif kalau mendengar nasihat harus hormat kepada orang tua sedangkan kenyataannya saya tidak merasa disayang orang tua terutama ayah. Saya benci nasihat keluarga bahagia, kadang terasa seperti mengejek saya yang tak bisa sayang kepada orang tua. Saya pikir mereka tidak mengalami rasanya menjadi saya jadi mereka tidak memahami. Sebaliknya, saya justru merasa lebih peka jika saya melihat ada anak-anak dari keluarga bercerai. Saya yang berkecimpung di dunia anak-anak berkenaan dengan profesi saya sebagai guru, seringkali terhanyut perasaan saat ada siswa yang curhat tentang perasaan sedihnya karena orang tuanya bercerai. Saya paham betul rasanya, saya mengerti bagaimana kekecewaan mereka. Apalagi saat mereka bilang hanya saya yang mengerti keadaannya karena orang lain malah menghujat mereka sebagai anak nakal tanpa mereka tahu sebabnya.

Nah, siapapun yang sesekali atau bahkan seringkali melihat seseorang yang sedang mengalami kesedihan di sekitar kita, lebih baik cobalah memahami meski tak mengalami. Karena itulah yang diperlukan dan akan terasa lebih dari pemberian apapun. Sebuah pengertian adalah sikap yang mahal yang sulit diberikan namun akan sangat bernilai maknanya di mata dan hati yang menerimanya.

Bersyukurlah jika tidak mengalami kesedihan yang sama jangan sampai Tuhan menimpakan sesuatu yang buruk karena kita tidak bersyukur. Mari menciptakan iklim kehidupan yang baik dengan menebarkan saling pengertian satu sama lain sehingga menambah keharmonisan yang akan menarik energi positif di hari hari yang selalu dilewatkan dalam beraktivitas.

NubarNulisBareng/LinaHerlina