THIS IS MY DREAM

THIS IS MY DREAM

Masih dalam rangka memeriahkan hari guru, saya mau menuliskan perjalanan menjadi seorang guru. Maafkan ya, suka bercerita apa saja, hehehe.

Kenapa saya memilih menjadi seorang guru? Padahal mungkin profesi lain lebih “menggiurkan”. Bukan tanpa alasan dan bukan karena “kepepet” alias terpaksa menjadi seorang guru. Sejak menentukan pilihan jurusan kuliah, saya mendapat pesan cinta dan arahan dari Mimih (kalau dalam bahasa Indonesia tante alias adiknya ibu).

Lulus SMA sempat berhenti satu tahun karena dana tidak mencukupi untuk lanjut pendidikan. Tidak mungkin saya memaksakan kehendak untuk terus kuliah sementara adik-adik saya juga membutuhkan biaya untuk tetap sekolah. Keinginan untuk belajar tak terhenti karena kondisi, saat itu saya nekat berangkat ke Yogyakarta sendiri (ini pertama kali saya keluar kampung, sendiri pula). Kalau mengingat masa itu suka senyum-senyum sendiri, ternyata saya bisa nekat juga ya.

Di tengah keraguan, saya tetap mencoba daftar STAN dengan harapan bisa diterima dan bisa kuliah tanpa biaya. Tapi hasil tes tidak memadai untuk bisa mencicipi kelezatan ilmu yang sudah lama jadi mimpi. Saya langsung banting kemudi karena tak boleh lama-lama meratapi nasib diri.

Saya lupa kenapa dulu memilih pergi menuju Yogyakarta, yang jelas saya percaya Allah telah menetapkan garis takdir terbaiknya. Kita tinggal mengikuti saja setapak demi setapak. Dan sekarang kenekatan waktu itu adalah sesuatu yang selalu saya syukuri.

Selama saya di Yogyakarta, saya tinggal di sebuah pesantren. Di situ saya belajar banyak hal termasuk bagaimana ikhlasnya pak Kyai dan Bu Nyai dalam mendidik para santri. Sempat terbersit dalam hati suatu saat saya ingin seperti Bu Nyai, seorang hafizah yang tawadhu walaupun banyak ilmu (semoga keberkahan senantiasa Allah anugerahkan untuk  Pak Kyai, Bu Nyai, dan seluruh santri yang sedang belajar ngaji).

Perjalanan kuliah yang menyenangkan, berbagai cerita lucu dan unik menjadi bumbunya. Termasuk musibah gempa Yogya di tahun 2006 yang membawa berkah. Saya katakan membawa berkah karena dengan kejadian itu masa kuliah saya bisa terpangkas 2 semester sehingga bisa menuntaskan kuliah hanya dalam waktu 3 tahun.

Passion guru mulai terbentuk saat masa kuliah. Di sela-sela waktu kuliah saya mengajar di sekolah maupun privat. Eh tepatnya sejak saya ngajar di SDIT Luqmanul Hakim jadwal kuliah yang saya sesuaikan. Mungkin saya termasuk mahasiswi yang aneh, saat penyusunan KRS saya lebih memilih ikut lintas kelasΒ  (saya mengambil jadwal dari PAI 1 hingga PAI 5) yang penting mata kuliah itu tidak tertinggal saya ikuti.

Negatifnya, saya bisa mengenal teman-teman satu angkatan tapi tidak bisa terlalu akrab karena pertemuan terbatas di jam kuliah saja. Positifnya saya bisa menjadi wisudawan pertama di angkatan  bahkan diberi kepercayaan untuk menyampaikan sambutan perwakilan wisudawan. Namun yang lebih penting, saya bisa membuktikan bahwa dengan kemauan dan tekad yang kuat saya bisa membuat kedua orang tua meneteskan air mata bangga. (Aih, kok saya jadi melow pas nulis bagian ini)

Selepas kuliah saya melanjutkan perjalanan mendampingi suami di kota metropolitan. Alhamdulillah Allah izinkan untuk bergelut di dunia pendidikan kembali. Saat itu saya menimba pengalaman di SDIT Al Ihsan Pasar Minggu. Alhamdulillah di sana bertemu dengan tim yang solid, bahkan Ustadz memberikan aturan yang sangat enak, saat saya cuti melahirkan anak pertama beliau minta saya fokus dengan bayi plus saran beliau nambah hafalan yang banyak (inget banget pesan yang terakhir). Setelah masa cuti habis saya terus bergelut dengan rutinitas di sana. Asyiknya, pulang pergi ngajar dijemput ojek pribadi, hihihi.

Namun sayang, setelah pendidikan suami di LIPIA usai dan mendapat amanah di Sinar Cendekia, mau tak mau saya ikut juga. Awalnya saya di rumah saja karena idealisme masih tinggi, ingin mendidik anak sendiri, apalagi itu adalah anak pertama. Namun, tawaran untuk mengajar di SDJJ tak bisa saya tolak karena melihat peluang dapat belajar dan pengalaman baru yang besar. SDJJ itu adalah sekolah jarak jauh, saya mengajar di sini tapi siswanya ada yang di Jepang dan di Korea.

Di sinilah pengalaman semakin terasah dan saya mencintainya. Mencintai anak-anak lucu yang haus ilmu, mencintai suasana ukhuwah yang terasa tentu dengan berbagai dinamikanya. Satu hal lagi, keinginan saya mengikuti jejak Bu Nyai juga terwujud saat tiga tahun terakhir mendapatkan amanah mendampingi para santri di Boarding School. Walaupun saya akui, dari segi ilmu dan hal lainnya masih sangat jauh dari Bu Nyai sang sumber inspirasi.

Terima kasih tak terhingga untuk semua yang telah memberikan ilmu dan pengalaman yang berharga. Insya Allah akan terus belajar dan belajar demi menyempurnakan ilmu dan pengalaman.

Pesan terakhir untuk para pejuang ilmu, jadilah guru yang hatinya berzikir, akalnya berfikir, diamnya bertasbih, ucapannya kebaikan, perilakunya panutan, dalam sendiri tetap berbakti, dalam keramaian berkolaborasi, ucapan dan perilakunya digugu dan ditiru. Tetap bahagia menjadi guru!

Selamat Hari Guru Nasional

Teruntuk para admin dan adminah, khusus tulisan ini saya mohon izin mencolek dan menambahkan tagline tambahan. Terima kasih.

_𝓦𝓲𝓷π“ͺ 𝓔𝓡𝓯π“ͺ𝔂𝔂π“ͺ𝓭𝓱_

#Nubar
#NulisBareng
#Level2
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week4day3
#RNB016JABAR
#rumahmediagrup

#GuruKerenSinarCendekia
#GuruMuliaLebihBaikDariSemuaHartaDunia
#HariGuruNasional2020
#10ThSinarCendekia
#SinergiDanKontribusiUntukGenerasi