THE SECRET OF AMAZING LIFE

Bagi beberapa orang tertentu, saat memiliki keinginan bisa ngotot sekali memperjuangkannya. Semaksimal mungkin berusaha sampai keinginan tersebut tercapai.

Ini adalah sikap yang baik, dimana seseorang mau fight dan membayar ‘harga’ untuk mewujudkan apa yang diinginkannya.

Namun kadang, saking semangatnya tanpa disadari bisa jadi lupa dan mempertaruhkan banyak hal. Fisik, kesehatan, mental dan emosional. Makin besar dan berarti sebuah keinginan, makin besar pula pertaruhannya.

Jika sudah demikian, maka perjuangan menjadi tidak sehat lagi karena sudah terlalu melekat sebagai obsesi. Seolah-olah kita ingin berkata “Ini harus terjadi”. Seolah-olah tidak ada pilihan baik lain selain ‘harus terjadi.’

Padahal siapa kita bisa memaksakan semuanya. Kenyataannya begitu banyak hal terjadi diluar kuasa kita. Mulai dari sikap orang lain, cara berpikir yang berbeda-beda, cuaca, peristiwa alam, keberuntungan dan masih banyak lagi.

Akibatnya, jika keinginan telah menjadi suatu obsesi yang melekat erat, saat tidak tercapai atau tercapai tidak sesuai harapan, kita jadi mudah stres atau tertekan. Merasa bodoh, malang, sedih dan hilang kendali atas diri sendiri.

Berbeda halnya ketika kita mampu bersikap ikhlas di dalam hati. Apapun jalan cerita dalam hidup, baik hal kecil maupun besar yang tercapai maupun tidak tercapai sesuai harapan, bisa kita terima dan jalani dengan lapang.

Ikhlas bagi saya bukanlah sikap pasrah sepasrah-pasrahnya. Ini adalah definisi dari malas dan tak peduli. Malas berjuang, tak peduli pada pencapaian atas keinginan.

Namun ikhlas dimata saya juga bukan berarti sikap memaksakan segalanya ‘harus terjadi’ sesuai harapan setelah berusaha dengan maksimal. Tak ada pilihan lain.

Ikhlas jauh lebih besar dari itu semua. Ketika sudah mampu berjuang sengotot-ngototnya kemudian berserah sepasrah-pasrahnya, bahwa kehendak Tuhan-lah yang terjadi, maka inilah wujud sejati dari ikhlas.

Saya pernah sangat ngotot memperjuangkan sesuatu. Sangat stres dan kecewa ketika setelah mati-matian berusaha tapi keinginan tak juga terwujud.

Saya juga pernah memilih malas dan tak peduli pada sesuatu, berkedok pada identitas pasrah. Tentu saja sikap ini tidak membawa pada keberhasilan mencapai apa yang saya harapkan.

Namun berulang kali saya memilih berusaha untuk ikhlas. Ngotot sengotot-ngototnya, lalu pasrah sepasrah-pasrahnya. Apapun hasilnya, biarlah kehendak Tuhan yang terjadi.

Saya melepaskan kemelekatan pada keinginan tersebut dan menempatkannya di tempat yang netral di luar diri. Perasaan menjadi sangat lega, seolah beban telah terangkat sempurna.

Entah mengapa, setiap kali melakukannya, justru Tuhan mengabulkan yang terjadi sesuai harapan saya! Memang benar, di batas usaha terbaik kita, di penghujung harapan kita, disitulah Tuhan mengulurkan tangan-Nya.

Dengan ikhlas, kita menurunkan ekspektasi sehingga tak kecewa berlebih saat keinginan tak terjadi.

Dengan ikhlas, kita berusaha lebih keras mengerahkan semua daya, mendorong sampai ke titik batas.

Dengan ikhlas, kita bisa merasakan indahnya bersyukur saat sesuatu yang telah kita perjuangkan habis-habisan dan kita lepaskan dari hati ternyata pada akhirnya terwujud.

Oh ya, bagi anda yang mau berusaha ngotot untuk hidup lebih bahagia, menyembuhkan luka batin dan bisa ikhlas melepaskan kemelekatan dengan rasa sedih masa lalu, saya mengajak anda belajar dan sharing dengan saya dan Ribka ImaRi.

Semoga bermanfaat!

Renny Artanti
STIFIn Family & Business Trainer
Co Founder of Xcellence International