The Green Eyes Man

Callista tersenyum melihat kanvasnya. Perfect. Dalam waktu satu bulan, ia berhasil menyelesaikan dua lukisan. Objek lukisannya adalah dua sepasang lelaki dan wanita yang berusia sebaya dengan Callista. Lukisan itu saling memandang dan tersenyum satu sama lain. Ia terinspirasi setelah melihat sepasang kekasih yang sedang bercengkrama di kedai kopi dekat apartemen Daddy. Entah mengapa, Callista merasa harus melukis mereka. Ada daya tarik dan aura tersendiri. Perlahan Callista menutup lukisan itu dengan selembar kain. Aku akan membawanya ke pameran bulan depan, batin Callista sambil tersenyum.

Dua malam berikutnya, Callista merasakan adanya kekurangan dalam lukisan itu. Kemudian ia tambahkan goresan cat di atas kanvas masing-masing. Membentuk sebuah gambaran menyerupai hati. Akan tetapi, hal yang mengagetkan terjadi. Esok harinya saat bangun tidur, Callista mendapati gambar itu retak, seperti terkoyak. Bingung ia melihatnya, baru pertama kali terjadi sepanjang Callista melukis.

Ia telah melukis sejak kecil, hampir semua bagian rumah masa kecilnya di kota Stuttgart, penuh dengaan coretan. Teringat Mama selalu memarahi sementara Daddy setia membelanya. Akhirnya Mama menyerah dan membiarkan Callista mengembangkan bakatnya. Ia bertekad menjadi pelukis terkenal saat dewasa dan bisa ke berbagai negara, bertemu  dengan pelukis handal sedunia. Sampai Mama tiba-tiba meninggal karena serangan jantung. Callista terlalu sedih dengan kehilangan Mamanya hingga ia memutuskan untuk pindah ke Munich. Melebur kesedihan dengan berkarya di ibu kota Jerman.

Semerbak harum kopi memenuhi ruangan apartemen kecil Callista. Ia memutuskan menikmati kopinya dan melupakan lukisan sepasang kekasih itu. Mungkin kualitas cat minyak yang ia pakai sedang jelek. Telepon dinding apartemen berbunyi saat gadis berambut merah burgundy itu membuat telur orak arik untuk sarapannya.

“Morgen, Sommer,” jawabnya. Nama lengkap Callista adalah Callista Helena Sommer.

“Wer sind sie?” tanyanya satu menit kemudian, wajah Callista memucat menggenggam gagang telepon. Sesaat ia mendengarkan telepon dengan seksama sebelum membanting gagang telepon dan mencabut kabelnya.

“Dennis ….” ujar Callista lirih sambil bergegas ke kamar. Teringat lelaki yang pernah dekat dengannya setahun silam. Callista memasukkan beberapa baju ke kopernya, memutuskan pergi beberapa hari. Mantan pacarnya adalah seorang yang posesif dan ringan tangan, ia tak tahu dari mana Dennis bisa mendapatkan nomer teleponnya saat ini.

Tak sengaja Callista menoleh ke lukisan yang baru ia selesaikan. Dua wajah dalam lukisan tersebut kini tampak murung. Mata si lelaki menjadi sayu, seakan telah melinangkan literan air dari matanya. Sementara mata sang wanita merah dengan riasan mata memudar. Bercak pensil mata berantakan terkena genangan air mata. Wajahnya yang awalnya dilukis muda dan ceria, menjadi kusut dan kendur seakan badai usia menerjang.

Sungguh Callista tak habis pikir, kejadian macam apa lagi ini. Ia tidak percaya hantu, hanya saja bingung mengapa lukisannya bisa menjadi murung, padahal pagi ini masih terlihat tersenyum. Callista mendesah, perutnya lapar. Namun berkejaran dengan waktu, ia takut Dennis tiba-tiba muncul di depan apartemennya.

“Selamat tinggal lukisanku, selamat tinggal dulu apartemenku tersayang. Beberapa hari ini aku terpaksa harus berpisah dengan kalian,” ujar Callista mengucapkan salam perpisahan sambil menutup jendela apartemen dan mengunci pintu. Ia membebat lehernya dengan syal yang lebih tebal. Angin sisa musim dingin masih sering berhembus.

Suara keriuhan pagi hari menyentak pikiran Callista. “Aku harus pergi ke galeri Madam Van Louise dulu, baru membeli karcis kereta ke luar kota, tapi ke mana aku harus pergi?” Callista berbicara sendiri sambil berjalan tergesa. Hampir saja ia tersungkur menubruk pembatas jalan kalau tidak ditolong oleh seseorang.

“Hi, are you okay?” tanya penolongnya. Pandangan mereka beradu saat pria itu berusaha membantu Callista berdiri, dan Callista berpegangan ke pagar taman sambil memegangi tangan pria itu. Dia? Sosok yang Callista lukis?

“Hi miss, I’m sorry because I made you fall,” sorot bola mata hijaunya tampak bersinar cerah, sehangat angin musim semi yang bertiup saat ini.

“Uhmm it’s okay. Sorry because I’m late for work,” sahut Callista rikuh.

“This is my name card. Maybe we could go for a coffee tomorrow, for my apologies?” Si tampan bermata hijau menyodorkan kartu namanya kepada Callista. Yes, yes, dalam hati Callista ingin langsung mengiyakan.

“Hello Callista. There you are.” Terdengar suara dingin yang sangat dihafalnya. Dennis.