Tetap Ibadah Walau di Rumah Saja

Bulan ramadan kali ini berbeda dari tahun sebelumnya. Para umat muslim harus rela beribadah dari rumah ketika pandemi covid-19 mulai menyebar. Kegiatan beribadah yang biasanya dilaksanakan berjamaah dan merupakan momen yang ditunggu-tunggu, mau tidak mau harus dilaksanakan di rumah saja.

Konsep ibadah yang kita kenal selama ini adalah berkumpul dan berdoa bersama di dalam gedung. Namun korona menciptakan suatu perenungan bagi kita semua bahwa tempat ibadah bukanlah gedungnya. Sesungguhnya beribadah bisa dimana saja karena Tuhan ada dimana-mana.

Sementara ini kita dihimbau untuk mengerjakan segala sesuatunya dari rumah bersama dengan keluarga. Belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah.

Bisa kita bayangkan bagaimana riweuhnya suatu keluarga yang memiliki aktivitas yang tidak biasa di rumah. Misalkan pekerjaan seorang ibu rumah tangga  biasanya mulai terasa enteng di pagi hari setelah suami dan anaknya berangkat, namun kini berbeda.

Seorang ibu harus siap mendampingi anaknya belajar sembari menyiapkan kudapan untuk anggota keluarganya. Jika sang ibu seorang pekerja, maka harus pintar-pintar memanejemen waktu. Tubuh harus benar-benar dalam kondisi sehat agar semuanya tertata dengan baik.

Begitu juga dengan seorang suami. Harus rela bekerja dari rumah meski sesekali digangguin oleh anak-anaknya. Pun setiap anak yang belajar dari rumah yang mungkin selama ini banyak bergantung pada guru, mau tidak mau mereka harus lebih mandiri.

Di saat seperti ini, setiap orangtua harus mampu menjaga kestabilan emosi, mengontrol suasana hati dan pikirannya sehingga anak-anak tidak menjadi pelampiasan amarah. Mungkin sulit bagi kita beradaptasi dengan aktivitas yang monoton. Namun, ketika orangtua bisa menjadi teladan yang baik di hadapan anak-anaknya, maka tidak mustahil dari keluarga akan tercipta calon pemimpin yang unggul.

Ibadah di rumah artinya setiap keluarga harus mampu menghadirkan suasana damai di setiap rumah tangga. Meskipun terasa lebih berat dan bosan di rumah saja, setiap anggota keluarga harus sadar bahwa pandemi ini akan berlalu tepat dengan waktuNya.

Pada akhirnya, setiap keluarga harus dibaharui terlebih dahulu supaya setelah pandemi ini berakhir, banyak keluarga yang dipulihkan. Dipulihkan hati dan pikirannya agar lebih siap menghadapi situasi apapun di masa yang akan datang.

Satu keluarga akan menopang keluarga yang lain, saling memaafkan meski tidak dapat berjabat tangan, saling memperhatikan meski tidak dapat merangkul, dan saling memperhatikan meski tidak dapat bertemu.

Semoga kehadiran pandemi covid-19 ini tidak hanya menimbulkan hal-hal negatif namun juga mampu menghidupkan kembali kerinduan setiap anggota keluarga untuk semakin dekat dengan Sang Pencipta.