Tetap Disini (9)

Sudah tiga kali sepagian ini Ihsan putraku buang-buang air, dan kemarin saatnya mas Iyan untuk tugas di pabrik didaerah perbatasan antara kalimantan Tengah dan kalimantan Barat, selama 3 hari.

Mas Ihsan setiap 3 bulan sekali harus mengecek pabrik yang terletak di Kalimantan Barat, dan aku sudah terbiasa untuk itu, tapi pagi ini setelah kemarin pagi mas Iyan berangkat Ihsan buang-buang air. Dan ini membuatku cemas.

Sampai siang sudah 6 kali buang-buang air dan sudah disertai dengan muntah, anakku terkena muntah berak. Segera aku memberi tahu teman mas Iyan untuk segera memberitahu mas Iyan agar segera pulang.

Setelah mas Iyan mendapat berita, kemudian temannya menyampaikan kalau aku di suruh untuk bersiap-siap untuk menyiap perlengkapan yang akan dibawa, akan segera ke Rumah Sakit di Pangkalan Bun.

Sudah terbayang perjalanan untuk menuju Pangkalan Bun, harus melewati Sukamara dan harus bermalam, karena mobil yang menuju kota waringin dari Sukamara hanya sampai jam 14.00 wib.

Pagi ini setelah mas Iyan sampai di rumah, kami segera berangkat, butuh waktu 2 jam untuk sampai di Sukarama dengan menggunakan speed boat.  Sampai Sukamara kami langsung naik Taxi Kalau mereka menyebutnya,  mobil Kijang yang di isi full penumpang. Perjalanan dari sukamara untuk sampai ke Kota Waringin memakan waktu 4 jam, dengan medan jalan yang jauh dari nyaman.

Jam 14.00 wib, kami sampai di kotawaringin masih 1 jam perjalanan lagi dengan speed boat untuk sampai di pangkalan Bun, sudah tidak bisa di bayangkan lagi bagaimana cemasnya kami berdua, karena Ihsan sudah lemah sekali, karena masih saja muntaber selama perjalanan. 

Sebelum berangkat mas Iyan minta tolong temannya untuk bisa meminta tolong temannya  yang seorang dokter  di RS.Pangkalan Bun, jaga-jaga takut sampai Pangkalan Bun petang hari.

Sesampainya di Rumah Sakit , anakku langsung ditangani oleh dokter, teman mas Ihsan, menanyakan kenapa baru di bawa ke RS setelah keadaan’ seperti ini. Mas Iyan dan aku hanya bisa menangis saja, sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Proses untuk menginfus mencari venanya sangat susah,  sudah di tusuk di kaki , ditangan tetap tidak bisa karena sudah dehidrasi, akhirnya jalan satu-satu di vena sectio.

Sulit untuk mengungkapkan apa yang ada dalam hati, terus terbersit dalam hati apakah ketika anakku sampai di Rumah Sakit masih dalam keadaan hidup.

Alhamdulillah setelah di infus 2 botol tubuh Ihsan sudah mulai terlihat segar, muntahnya sudah hilang tinggal diarenya yang masih ada. Inilah salah satu kenangan kami yang tak terlupakan.

Kenangan yang nanti akan kuceritakan pada anak-anak, bagaimana Allah menjaga semua hamba-Nya, Mas Iyan bisa dengan perasaan aman meninggalkan aku dan ihsan di daerah perantauan yang tidak ada sanak keluarga, bagaimana aku yang juga memiliki rasa yakin aman ketika di tinggal kerja oleh mas Iyan berhari-hari, yang tidak pernah terfikirkan tentang hal yang aneh-aneh. Allahlah yang mendekap erat rasa itu, aman dan nyaman.

Nubarnulisbareng/Nurfahmi

Sumber Gambar : Foto Koleksi Pribadi