Tetap Disini (8)

Gangan terong asam  dengan  iwak haruan dan sambal mentah membuat terbit selera makanku, iwak papuyu bakar hasil memancing di bawah rumah kami menambah semaraknya hidangan makan siang hari ini. Apa yang jadi pertanyaan pertamaku saat akan memutuskan mengikuti sang pujaan hati? Tau ga? Aku tanya “ayah ada cabe ga disana” hahaha…         (gangan artinya sayur,  di kalimantan ada sayuran seperti paprika kalau sudah masak warnanya kuning, tetapi rasanya asam, daging buahnya ada biji kecil-kecil seperti biji cabe yang di sebut “Terong Asam” dan di masak dengan bumbu sayur asam tapi pakai kunyit dan ditambah iwak haruan atau ikan gabus) dimasukan dalam sayur terong asam tersebut,serta iwak papuyu (ikan betok atau betik) bakar

Karena suamiku tidak terlalu memperhatikan kondisi kelengkapan perdapuran dan segala bumbu dapurnya selama dia sendirian di Jelai, sehingga yang mas Iyan tau hanya ada cabe kering (cabe yang di keringkan), tapi aku terus berfikir maasak sih ga ada cabe. Apa kata dunia… Hahaha

Tanpa terasa sudah hampir satu tahun kami di sini, sebentar lagi akan ramadhan. Kami sudah berkabar ke orang tua kami, kalau tidak pulang lebaran ini. Suasana ramadhan di Kuala Jelai sama dengan kita di Jawa, untuk takjil memang terbatas tapi ada wadai (kue) namanya wadai unti dari tepung beras di dalamnya di Isi unti kelapa tapi masih di kasih kuah atau fla gula merah,dan santan rasanya manis, legit dan gurih. Dan menjadi favorit takjil kami.

Siang tadi ada orang kerumah mengabarkan bahwa ada ayah mas Iyan, datang dari Jakarta, ya selama kami di Jelai, kami tidak ke pernah ke sepian, orang tua kami  bergantian menemani kami. Ayahku sampai membuat kebun kecil di halaman depan rumah, sehingga kami panen siapapun boleh ikut menikmatinya.

Kami memang agak kesulitan untuk kebutuhan pokok pangan, seperti sayuran, karena sayurannya di dropp dari semarang dan surabaya, yang di bawa oleh lete-lete (perahu/kapal laut) yang membawa Sayuran sejenis kol, waortel, kentang, tetapi kami berlimpah ikan dan udang dari sungai dan dari danau.

Karena memang berada di daerah sangat terpencil, susah kami menyakinkan,  kita bisa hidup dan tidak kurang satu apapun kecuali air minum ya… Air minum mereka mengandalkan air hujan yang di tampung dalam puluhan drum untuk persediaan ketika kemarau, karena airnya payau (hitam dan berbau), sebahagian dari penduduk kuala jelai, anak mereka kuliah di Surabaya dan Semarang.

Kalau untuk ikan laut, setiap hari kita bisa makan ikan laut segar langsung dari laut dan ikan dari danau, belum lagi udah laut dan udang “galah” dari danau, jadi kami tidak mungkin akan kekurangan gizi, sayur kangkung tanpa di tanam tumbuh sendiri dirawa. Masyarakatnya yang sangat terbuka mau menerima kehadiran orang luar.

Sampai saat ini hubungan silaturahiim kami dengan keluarga di Kuala Jelai tetap terselenggara. Ketika ada yang main ke Jakarta karena tugas dan lain hal maka akan datang kerumahku atau kami datang ke hotel tempat mereka menginap. Alhamdulillah Allah izinkan kami mengenal dan bergaul dengan saudara kami di Kuala Jelai. Banyak sekali kenangan indah selama kami berada di sana.

Nubarnulisbareng/Nurfahmi

Sumber gambar : Foto cuplik dari whatapps.