Tetap Disini (7)

Sebelum menikah mas Iyan pernah melamar bekerja di kalimantan dan dianggapnya sudah tidak diterima karena  tidak ada kabar beritanya, ketika usia kehamilan anak pertamaku tujuh bulan, ada panggilan bekerja di kalimantan, hati deg-deg plas, karena pastinya akan segera berjauhan dan aku akan melahirkan.

Mas Iyan membesarkan hatiku, dia harus ambil tawaran kerja ini berharap dari gaji yang di terima  bisa untuk DP rumah dengan nominal yang agak besar sehingga cicilannya nanti kecil, syukur-syukur bisa  punya rumah sendiri dan beli vespa nantinya, Itu harapannya mas Iyan yang di sampaikannya padaku, dan dia janji kalau saat aku melahirkan mas Iyan bisa pulang dan itu sudah jadi kesepakatan kerjanya. 

Sebelum berangkat mas Iyan wanti-wanti meninggalkan pesan apa yang harus dilakukan apabila terjadi hal yang tidak di inginkan, jujur saat aku menikah dengan mas Iyan aku tidak pernah tau apakah mas iyan memiliki tabungan atau tidak, pernikahan kamipun dilaksanakan dengan sederhana, hanya menggunakan uang  mas iyan dan uangku, karena keadaan  kedua pihak orang tua kami.

Mas Iyan mengeluarkan sejumlah uang dari dalam lipatan  sebuah buku, “ini untuk biaya melahirkan dan kebutuhan yang lainnya”, aku tertegun dan terkaget-kaget, di jaman ini masih ada yang menyimpan uang di lipatan buku, aku tanya pada  mas Iyan “mas … Kamu ga ada buku tabungan “, mas Iyan menggeleng sambil tersenyum ” ga sempet buatnya dan pergi ke banknya” jawab mas iyan.

Kehidupan kami berjalan secara terpisah baru sebulan saja terasa begitu lama sekali, mas Iyan dapat lokasi tempat kerja di daerah sangat terpencil, dan itu membuatku terus berfikir kasihan sekali pasti kondisi dan keadaannya sangat minim dari fasilitas yang memudahkan, kami hanya bisa berkirim surat, ibuku terus mengingatkan ku untuk berhenti bekerja dan mengikuti suamiku.

Mas Iyan menepati janjinya untuk datang saat aku akan melahirkan, saat mas Iyan datang kandunganku sudah menampakan tanda – tanda akan segera melahirkan setelah mas Iyan mandi dan makan malam dan istirahat sejenak, kami segera kerumah sakit. Dua jam selanjutnya lahirlah buah cinta kasih kami berjenis kelamin laki- laki dan sehat.

Akhirnya aku mengalah dengan keadaan yang ada saat cuti melahirkanku berakhir, baru seminggu  aku masuk kerja, mas Iyan izin untuk menghadap direktur, terkait pengunduran diriku. Alhamdulillah direkturku mengizinkan karena dia suka sekali mas Iyan bekerja di kampung halamannya.

Aku sangat menikmati keberadaanku saat menemani suamiku di kalimantan, tepatnya didaerah sangat terpencil Kuala Jelai, di kalimantan Tengah. Masyarakatnya sangat bersahabat dan mayoritas Islam, walau banyak keterbatasan tapi semua bisa teratasi pokoknya bila bersama suamiku semua aku Rasakan nyaman asalkan bisa melihat sosoknya dan ikut mendampinginya.

Nubarnulisbareng/Nurfahmi

Sumber gambar : Foto Koleksi Pribadi