Tetap Disini (6)

Kejadian seperti yang Farhan lakukan padaku terjadi kembali, kali ini dia yang mengikuti ketempatku bekerja, dan dia ikuti diriku hingga kini, hingga kami memiliki tiga orang buah hati kami, ya dia adalah suamiku.

Pagi ini seperti biasa aku berangkat kerja dengan bus yang sama, tempat menunggu bus yang sama dan pada jam yang sama. Dari kejauhan aku lihat sosokĀ  mas Iyan, berjalan menghampiriku.

Pria yang saat mengenalkan dirinya sebagai seorang wasit sepak bola, saat dia memberikan kartu namanya padaku, aku terkejut “oh… masih ada yang mau menjadi wasit sepak bola, disaat pemuda atau pria lain sibuk dengan berbagai cita-cita, profesi yang satu ini luput dari fikiranku”.

Pagi ini mas Iyan katanya mau ke tempat temannya di daerah P.Jayakarta, “Dimana P. Jayakartanya tanyaku”, dia hanya tersenyum, “ntar lihat aja”, sahutnya padaku. “wah… Kok ntar lihat aja?” aku berfikir miring lagi, jangan-jangan, “ah… Sudahlah, kan aku sudah punya pengalaman yang seperti ini, kalau ada apa-apa trik yang dulu saat di ikuti oleh Farhan akan aku gunakan lagi” batinku dalam hati.

Ketika aku turun di depan masjid Istiqlal, mas Iyan pun ikut turun, dan ketika aku melanjutkan perjalananku dengan bemo untuk sampai di kantorku, diapun ikut, aku ga mau banyak tanya, hanya aku tanya nanti turun di mana?, “jembatan merah katanya”. Hmm sama dengan tempat pemberhentianku. Ya sudahlah, memang benar sepertinya teman yang akan di temui mas iyan sama dengan arah kantorku.

Saat aku turun mas Iyan pun turun, aku pamit dengannya, “Aku duluan ya…” kataku sambil bergegas, ” iya silahkan”, sahut mas Iyan, aku jalan secepat-cepatnya, coba untuk masuk ketempat mobil-mobil parkir agar arahku tidak ketahuan.

Esoknya disore hari sebelum aku pulang kantor, mas Iyan telepon kalau dia sudah menungguku di depan pos satpam, “apa…..???, pos satpam yang mana?”, jawabku, ” ya Udah pokoknya ntar keluar kantor lihat ada ga aku di pos satpam, kalau ga ada ya berarti aku salah” jawab mas Iyan padaku.

Sejak saat itu maka ketika mas Iyan sedang tidak sibuk dengan pekerjaannya dia akan menjemputku, mulai saat itu tidak ada satupun yang mengantar dan menjemputku hanya mas Iyan, lelaki sederhana yang darinya aku banyak belajar.

Sumber gambar : Cuplik dari facebook

Nubarnulisbareng/Nurfahmi