Tetap Disini (5)

Pagi ini aku berangkat kerja seperti biasanya, menunggu “Patas 52” . Bila ingin mendapatkan bangku untuk duduk maka harus berjalan dulu sejauh 500 meter, kebiasaan ini kunikmati setiap hari.

Saat di perjalanan, terbayang saat nanti turun di senen, hmm… aku akan beli “mie ayam Gimin” liurku terbit membayangkannya. Sepertinya masih ada waktu yang tersisa untuk memesanĀ  sebungkus mie ayam.

Ku lihat Farhan dibagian belakang bus, Dia tidak kebagian bangku, Farhan ku kenal karena aku sering ke kantor pos dan kebetulan rumah kami searah dan dengan bus yang sama saat berangkat dan pulang kantor.

Saat aku turun di senen, kulihat Farhan pun ikut turun, “ada keperluan kemana dia tumben turun di sini” batinku dalam hati, aku langsung menuju mas Gimin si penjual mie ayam favoritku.

Tak lama lewatlah bus yang ku tunggu ke arah Kota, aku naik dan pasti berdirilah, dibagian belakang kembali kulihat Farhan, “hah…. Dia naik bus ini, mau kemana dia”? Aku pura-pura tak melihatnya.

Aku penasaran kenapa tumben Farhan ada di bus ini, firasatku menangkap hal yang mencurigakan, akhirnya sebelum sampai di kantorkuĀ  aku coba turun, dan benar Farhan juga turun mengikutiku, kenapa dia tidak coba ngobrol denganku, aku sengaja berjalan sambil terus sudut mataku memperhatikan gerak Farhan, benar dia mengikutiku, ku coba lihat, siapa tau adaĀ  bajaj kosong lewat, ketika ada bajaj, ku stop aku langsung naik, debar jantungku berdegup

Sampai di kantor aku masih belum nyaman, jemariku masAku penasaran kenapa tumben Farhan ada di bus ini, firasatku menangkap hal yang mencurigakan, akhirnya sebelum sampai di kantorkuĀ  aku coba turun, dan benar Farhan juga turun mengikutiku, kenapa dia tidak coba ngobrol denganku, aku sengaja berjalan sambil terus sudut mataku memperhatikan gerak Farhan, benar dia mengikutiku, ku coba lihat, siapa tau adaĀ  bajaj kosong lewat, ketika ada bajaj, ku stop aku langsung naik, debar jantungku berdegupih bergetarĀ  saat bayar bajaj, sambil ku melihat kembali kesekeliling, kalau-kalau Farhan mengikutiku. Ada apa dengan Farhan, untuk ukuran lelaki, Farhan adalah pria idaman, tinggi putih, dan ganteng. Yang kurang dia tidak mau berterus terang. Ini yang aku sesali.

Hari-hari berikutnya akuĀ  tidak lagi melihat Farhan dalam satu bus, semoga ia baik-baik saja, dan semoga Farhan tidak seperti apa yang aku bayangkan. lelaki setampan Farhan seharusnya bisa bersikap gentleman, semoga saat nanti bertemu kembali semua kembali menjadi biasa-biasa saja.



Nubarnulisbareng/Nurfahmi

Sumber Gambar : cuplik dari whatapp