Tetap Disini (12)

Aku memilih untuk duduk di ruang makan yang terang benderang, di bandingkan dengan ruang tamu yang temaram. Aku duduk berseberangan dengan Iskandar, Iskandar menyuruhku untuk duduk di sampingnya, aku turuti karena menjaga perasaannya juga, akhirnya aku pindah disampingnya kira-kira jarak satu meter. Sesuai dengan tata letak kursi meja makan.

“Kalau mau minum ambil aja ya Is sendiri, yang enak aja jangan malu-malu”  ucap Lili sambil melihat Iskandar dan diriku. Kemudian Lili masuk kedalam kamar yang di ikuti oleh Heru, pintu kamar memang tidak di tutup. Tapi…. Aku jadi berfikir macam-macam, dadaku berdegub kencang dan keringatku sudah mulai keluar di permukaan kulit wajahku. Bagaimana ini….?

Belum selesai aku berfikir dalam hati, tiba – tiba Iskandar berusaha untuk memegang Pergelangan tanganku, aku reflek untuk menjauhkan tanganku sehingga tidak terpegang olehnya.

Dadaku terus berdegup, Iskandar kemudian bersuara pelan “jangan jauh-jauh duduknya, sinian dekat dikit” ucapnya. “ga ah… di sini aja” ucapku, “Emang kenapa?” tanyaku kemudian.

Iskandar berdiri dari kursi yang didudukinya dan akupun secara reflek ikut berdiri segera keluar dari temputku duduk, Iskandar menghampiriku dan akupun menghindar dengan berjalan mengelilingi meja makan.

” Kenapa kok begitu?”, ucap Iskandar, ” Ga kenapa-napa, ya sudah kita duduk aja lagi” sahutku, tetapi Iskandar malah berlari mencoba menangkapku, jujur aku takut sekali Ya Allah lindungi aku,  aku terus beristighfar.

Kami berlari mengitari meja makan aku semakin takut, aku coba untuk berlari kearah kamar dimana Lili dan Heru ada didalamnya, ketika aku mencoba ingin masuk kekamarnya, astagfirullah aku menyaksikan mereka sedang bercumbu dan  tak ku perlu teruskan lagi ….

Saat itulah Iskandar menangkapku, aku didudukkan dipangkuannya, aku berusaha keras untuk melepaskan diri dari pelukannya. Iskandar Berucap ” Ih… Kamu kok norak amat sih…. Kayak anak kecil”!, ucapnya dengan nada kesal.  Aku jawab ” Oke … Kalau gitu lepaskan dulu aku. “

Iskandar melepaskannya, aku langsung kembali berlari menjauh, aku takut sekali, sudah terbayang bagaimana jika aku di perkosa, bayangan itu terus menghantuiku. Aku kemudian berkata ” aku mau pulang, kalau tau seperti ini aku ga akan mau.”

Iskandar kembali mengejarku dan kami kejar-kejaran layaknya anak kecil akhir aku beranikan diri untuk kembali lari kekamar dan sambil berteriak aku berkata ” Lili… aku mau pulang, ayo cepat aku mau pulang”. Dan Iskandar pun menghentikan kejarannya.

Iskandar duduk sambil minum air putih. Sedangkan aku sudah berdiri di depan pintu, sambil terus berteriak  ” ayo cepat Li…. udah jam berapa nih, nanti aku di omelin ibuku”. Akhirnya Lilipun keluar kamar. Ya Allah terima kasih.

Kami pulang, didalam mobil tak ada sepatah katapun dari mulut Iskandar, kami semua diam, ketika sampai di jalan raya Iskandar meminta untuk turun di jalan, Ia harus masuk kerja katanya.

Heru berkata ” katanya Lu lagi libur malam ini”, Iskandar tak menjawab ucapan Heru hanya mengucapkan terima kasih saja. Pasti banyak pertanyaan dari Lili dan Heru. Karena terlihat wajah mereka berdua  bingung.

Sesampainya di rumah, aku ceritakan semuanya pada ibuku, wajah cemas ibuku terlihat sekali, tapi aku meyakinkan aku tidak apa-apa, hanya tadi aku sempat di peluk dan duduk di pangkuannya. Ibuku berkata ” Kok begitu ya… Kelihatannya baik dan sopan”, “Syukur Allah lindungi kamu, sehingga tidak apa-apa” sejak saat itu Iskandar tidak pernah ada kabar beritanya.

Kisah ini adalah kisah yang tidak terlupakan hingga saat ini, makanya aku merasa harus menceritakannya pada anakku agar mereka hati-hati dimanapun juga. Semoga Allah melindungi anak-anakku dimanapun mereka berada . Aamiin Yra.

Nubarnulisbareng/Nurfahmi

Sumber Gambar : cuplik dari whattap