Tetap Disini (10)

Suara bola pimpong di pantulkan ke dinding terdengar kembali, kebiasaan ini selalu terjadi setelah Ihsan pulang sekolah, sampai di rumah langsung ganti baju dan makan, setelah makan ia akan segera mengambil bed pimpongnya kemudian langsung memainkannya.

Ihsan tumbuh menjadi anak yang alhamdulillah sehat, aku sempat khawatir ketika Ihsan lebih senang bermain sendiri di rumah daripada bermain bersama temannya di luar rumah.

Seperti bermain pimpong, cukup kreatif walau tidak ada mejanya ia menggunakan tembok kamar untuk media penggantinya. Sehingga suara pletak pletok bola pimpong sering terdengar, tidak peduli apakah ada yang mau tidur siang atau sakit gigi, ia akan terus bermain, ketika diingatkan untuk berhenti bermain dan mengganggu ia akan berhenti sejenak kemudian ia akan main lagi. Ya sudahlah mau apalagi.

Selalu meniru dan menciptakan ide – ide permainan baru, itu mungkin yang membuat Ihsan senang bermain di rumah, pernah ada kekhawatiran takut Ihsan jadi kewanita-wanitaan, karena ia senang sekali kalau menonton Miss Univers, semua di perhatikan dengan seksama olehnya, apa yang terjadi? Esoknya ia akan libatkan kedua adik perempuannya untuk jadi miss univers.

Kedua adiknya diatur untuk jadi miss univers dari negara yang dipilihkan oleh Ihsan untuk kedua adiknya. Didandani oleh ihsan, pakai selendang dan segalanya, bisa dibayangkan bagaimana keadaan rumah.aku tidak pernah menghiraukannya.  Belum lagi ia sibuk untuk menyiapkan medali yang akan di kalungkan bagi pemenang nantinya. Maka  nanti Ihsan akan datang kepadaku ” Ibu …. minta uang buat beli karton”, “Buat apa kartonya, buat main miss univers, mamas mau buat medalinya”.

Yang mengherankan kedua adiknya mau saja ikut dengan ide-ide mas nya. Ihsan berperan sebagai MC dan Juri, sebelumnya ia akan mencontohkan pada adiknya bagaimana cara berjalannya, bagaimana mengenalkan dirinya. Dan ketika akan ada pengumuman pemenang, Ihsan juga yang sibuk sendiri untuk cari jongkok untuk pemenang,  juara pertama akan naik di atas jongkok tersebut. Kami senyum-senyum saja melihat tingkah laku buah cinta kami.

Ini yang membuatku takut, Ihsan senang dengan hal yang berkaitan dengan wanita, mas Irfan mencoba menenangkanku ga papa kok, tenang aja. Dan belakangan ini baru ku tau bahwa yang di mainkan Ihsan ini adalah “Bermain Peran” dan ini ada pada tahap usia perkembangan anak dan itu harus ada. Aku bersyukur sekali, ya Allah … untung aku tidak melarangnya saat itu.

Kini Ihsan sudah tumbuh menjadi remaja, kebiasaan yang di lakukan saat kecil sudah jarang terlihat lagi karena sudah memasuki jenjang SMP.  Karena ia kini di sibukkan dengan berbagai les untuk pelajaran sekolah dan les olah raga seperti  bulu tangkis dan renang.

Tanpa terasa buah hati kami sudah mulai memasuki usia remajanya, semua pengalaman saat membesarkan mereka akan terus terekam kuat pada kami disetiap tumbuh kembang mereka. Semoga kami bisa terus bersama dalam membesarkan mereka semua. Aamiin ya rabbal a’lamiin. 

Nubarnulisbareng/Nurfahmi

Sumber Gambar : Foto cuplik dari whattapps