Tetap di Sini

Semilir angin menyamankan seluruh persendianku dan menghangatkan hatiku, berjalan diantara pohon bambu, mencium segarnya harum pohon bambu dan irama indah desau lirih dedaunan bambu makin membuatku terbuai. Buaian indah yang Allah titipkan pada romansa perjalanan menyusuri jalan setapak.

Menyusuri jalan di sepasang hamparan  pohon bambu,  memuaikan kembali kenangan masa kecil ku ketika pulang sekolah bersama ibu dan teman kecil ku, kadang berlari jauh meninggalkan ibuku, kemudian menunggu sambil bermain untuk kembali berjalan bersama, hal ini mungkin sudah jarang di jalani oleh anak usia SD Saat ini.

Kenangan berjalan dibawah rumpun bambu terus menyertai langkah ku sampai saat ini, aku masih merasakan indahnya saat melewati pohon bambu, yang terus masih kurasakan nyaman dan tentramnya mendengar desiran lembut gesekan pohon bambu yang tertiup angin mengantarkan syukur ku pada Zat Sang Maha pencipta

Masa kecil sangat bahagia banyak kenangan manis yang membersamainya, walau terasa saat berangkat dan pulang sekolah, harus berjalan memerlukan waktu 1 jam untuk sampai disekolah tapi semua terus kami lalui, aku , adik ku dan teman kecil ku, kadang ada keluhan yang keluar dari mulut kami, tapi tetap kami lalui semua ini.

Sesampainya di rumah sudah tercium wangi bakso mas gimin yang persis di sebelah rumah tempat kami ngontrak, kadang aku dan adik merengek untuk segera minta di belikan bakso, tanpa berganti seragam terlebih dahulu, langsung saja aku dan adiknya mengambil mangkok untuk wadah bakso kami. Karena kalau menurut hitungan sebenarnya baksonya beli siap untuk di jual, tapi mas gimin tetap melayani kami dengan syarat bawa mangkok dari rumah.

Tatapan mataku menatap lekat pada sosok yang sangat aku kenali, mata bulat, belok nan sayu, serta senyum khasnya,  yang membuatku untuk mempercepat langkahku sambil bertanya dalam hati, sudah lamakah ia menunggu disana. Digubuk asri, diatas bale anyaman bambu bersanding dengan nuansa alam yang menyamankan seluruh tubuh ini.

Senyum manisnya menyambut kedatanganku, siang ini ku lalui bersama dengan mencoba mensinergikan irama menata lara yang di jalani ayah dan anak ini  karena di tinggal bunda terkasih,  untuk menjadi peluk erat yang mengngokohkan serpihan hati yang mulai retak.

Kami berdua pulang dengan senyum hangat Langkah pasti untuk menyambut tantangan dan siap melanjutkan perjalanan kami. Ku yakini lagi kau semakin tau bagaimana harus bersikap ketika hujan turun di tengah hari. Sehingga dapat kau dekap erat asa mu yang akan mengindahkan  diri dalam bermunajat keoada Rabb Ilahi Rabbi.

Nubarnulisbareng/Nurfahmi