Tetap di Sini (2)

Memilih dan memutuskan sesuatu yang membuat hati dan rasa tidak nyaman menjadi pilihan yang harus diterima oleh kami, ibu ku memutuskan untuk memilih berjauhan dengan anak bungsunya agar ia bisa mengenyam pendidikaan ke jenjang selanjutnya.

Ya… adikku harus ikut tanteku di kampung dan berpisah dari ibu, ayah dan kakak yang biasanya bersama, ini pun di setujui oleh adik ku untuk bersekolah dikampung. Karena ia ingin sekolah, tidak ada yang merasa nyaman dengan hal ini, maka semua harus menerimanya dengan lapang dada.

Aku melanjutkan sekolah ku di SMA swasta di pondok bambu,  Jakarta, itu juga atas bantuan saudara yang menjadi kepala sekolah disana, kehidupan pribadiku saat SMA tidak ada yang terlalu istimewa seperti halnya remaja seusiaku , aku  ikut organisasi di sekolah,  menjadi sekretaris OSIS saat itu, disaat teman lain ada pasangan pacar masing-masing aku memilih untuk sendiri, bukan ga ada yang naksir, tapi aku berfikiran, berpacaran di masa SMA  tidak akan ada yang bisa sampai kejenjang pernikahan. Masih SMA bro…

Dan aku memang cenderung lebih dewasa dari teman  lainnya, mungkin karena faktor keadaan, jadi ga ada laki – laki yang kutaksir saat di SMA, apalagi yang seusia dengan ku, karena mereka ku anggap masih seperti anak-anak.

Ketika ingat saat itu, aku membayangkan bagaimana rasa hati ibu ku saat itu, benarlah bahwa wanita lebih kuat dari pria meski mereka memiliki fisik yang lemah. Cara apapun ia tempuh agar anaknya bisa bersekolah. Dan ini terekam jelas di otak kami.

Nubarnulisbareng/Nurfahmi