Teruntuk Saudari-Saudariku….

Teruntuk Saudari-Saudariku…

Mungkin agak sedikit lebay, namun aku menulisnya dalam syahdunya malam dengan ditemani suara detak jam dinding. Sekelebat flash back memori.

Aku seorang gadis dari kabupaten, datang menuntut ilmu ke ibu kota provinsi. walaupun jaraknya hanya 30 menit perjalanan tapi tetap saja banyak hal berbeda yg ku temukan disini.

Disini menjadi awal cerita yang akan dikenang sepanjang masa. Mulai dari dini aku belajar tentang kehidupan. Belajar mandiri dan mempelajari karakter banyak orang.

Dalam hidup ternyata bukan kita harus dimengerti, namun bagaimana kita mampu memahami orang lain.

Ego sebagai anak bungsu dalam keluarga, ego karena memiliki banyak saudara dan terbiasa hidup dalam bayang-bayang orang tua dan keluarga membuat awal menjadi anak kos begitu sulit. Awal masuk ke dalam kos rasanya ingin nangis tiap hari. Ingin rasanya pulang dalam pelukan ayah bunda.

Dulu, dunia perkuliahan yang terfikir olehku adalah dunia yang bebas. Bebas tidak pakai baju seragam, bebas tidak mesti masuk setiap jam 07.00 pagi, dan bebas tidak sering belajar.

Waaah…, ternyata diluar dugaan. Kuliah itu bukannya santai-santai, bisa belajar kapan saja. Tapi, tantangannya semakin besar, masuk kelas hanya beberapa jam namun tugasnya setiap hari. Hampir setiap malam aku begadang untuk menyelesaikan laporan, setiap malam rasanya ingin menangis, huhuhu….

Namun, dalam masa-masa perjuangan itu aku tidak sendiri. Angkatanku hanya satu kelas. Karena merasa senasib untuk menyelesaikan kuliah, kami menjadi dekat satu sama lain.

Di kampus aku mempunyai beberapa teman dekat. Kami dekat karena ada kesamaan dan karena saling membutuhkan.

Awal kedekatan kami karena ada yang membawa mangga ke kampus. Namanya Maria, agak sedikit kaget dengan penampilannya. Kulitnya hitam manis dengan rambut keriting, penampilannya seperti orang timur. Tetapi amazing ternyata dia muslim. Sampai dosen agama Islam menanyakan agamanya dan merasa tidak percaya. Dari segi tampilan dan nama, belakangan aku tahu, bapaknya berasal dari Maria, salah satu tempat di Bima. Oleh sebab itu,orang tuanya memberi nama Maria.Unik kan?hehe….
Di kampus ada orang yang pinter komputer, jadi abis ngetik yang semerawut g ada aturan ntar dibenerin ma dia. Usut punya usut ternyata dia kerja di rental, dari SMA pula jd sudah yakin deh punya ilmu yg mumpuni tentang komputer.
Dia ini keren orangnya, mungkin bak diplomat. Angkatan paling tua sampai paling muda dia kenal, entah pakai jampi-jampi apa dia??. Oh iya, namanya Suci. Sebenernya dia angkatan diatas saya, cuma pernah nganggur setahun jadi kami seangkatan.

Temenku yg ketiga namanya April. Hayo tebak, dia lahir bulan apa??
Pastinya bukan Desember lah,hihihi….
Aku juga lupa awal kami berteman tapi yang jelas kami menjadi Genk yang kami namakan “es en be”. Awalnya seh ekspektasi artinya “smart and beautiful” , tapi dosen kami menamfikkan nama itu dan mengartikannya “semak belukar”,wkwkwk….
Entahlah mana yang masuk diakal sajalah.

Yang terakhir namanya Fia, dia orangnya kecil, langsing, dan putih. Terkadang dia sering jutek dan ketus, tetapi dia teman yang baik.

Itulah sedikit profil mereka, pendek cerita kami menjadi sahabat.

Kami saling membantu, yang tidak ada komputer, meminjamkan komputer. Ketika tidak punya flashdisk, saling meminjamkan flashdisk. Yang tidak mempunyai motor, bergiliran untuk dijemput dan diantar. Ketika tidak ada uang untuk beli makanan, kami makan nasi satu nasi bungkus ramai-ramai. MaasyaAllah nikmatnya perjuangan itu.

Dalam bersahabat, tak jarang kami berkonflik. Kami mempunyai watak yang bermacam-macam dan seringkali ribut. Namun, selalu ada yang menengahi.

Dengan kepribadian yang berbeda-beda itu yang membuat kami saling menguatkan hingga akhirnya lulus kuliah dan menyandang gelar “Sarjana Sains”.

Sekarang kami jarang bertemu karena kesibukan kami masing-masing.

Malam ini aku begitu rindu, rindu kalian sahabat.

“Maafkan jika ada kata yang membuat luka, terima kasih telah hadir menjadi malaikat-malaikat penolong dalam hidupku.”

“Jarang bersua bukan penghalang tuk bersahabat dalam doa”.

” Jika aku ataupun diantara kita nantinya akan berpulang, ikhlaskan segala kesalahan, carilah aku nantinya di surga. Jika kalian tidak menemukan ku, Jemputlah aku ke neraka”.

“Jadilah saksi bahwa kita teman dalam kebajikan. Teruslah kita saling mengingatkan dan berusaha menjadi lebih baik”.

“Ana uhibbukum Fillah”

Andalusia E9, 22 Januari 2020

00.39 WITA

*rumahmediagrup/Chomsiatin*