“Terserah!” Kata Kunci Untuk Maju.

“Terserah!” Kata Kunci Untuk Maju.

Saat kita baru mau memulai sesuatu, atau sedang melakukan sesuatu yang baru, biasanya ada banyak godaan yang menerpa. Pujian, hujatan, terlalu diharapkan, bahkan terlalu diremehkan, semua bisa saja menjadi batu kerikil penghalang.

Dari mana datangnya kerikil tajam penjegal langkah tersebut?

Percaya atau tidak, biasanya kerikil itu datang justru dari pihak terdekat kita—sahabat, orang tua, pasangan.  Mengapa begitu? Karena ucapan merekalah yang paling kita dengarkan dibanding kata-kata dari orang yang tidak pernah kita kenal. Walaupun di era sekarang ini, ucapan netizen di media sosial juga bisa mengubah segalanya.

Pernahkah sobat mendengar peribahasa ini: “Anjing menggonggong kafilah berlalu”? Sebuah peribahasa yang mengartikan tidak perlu memedulikan ucapan orang lain. Terserah pendapat mereka tentang bagaimana cara kita berpakaian, selama itu terasa nyaman. Terserah apa kata orang mengenai cara kita bekerja, menuangkan karya, selama itu positif dan bermanfaat. Tak usah terlalu dipusingkan tentang body shame, yang penting tubuh sehat dan bahagia.

Ya, “terserah” dapat menjadi salah satu kunci untuk kita menyingkirkan kerikil penjegal langkah maju. Biarkan orang lain sepuasnya berbicara. Kita hanya perlu membuktikan melalui karya, prestasi, dan juga fakta. Lambat laun mereka yang banyak bicara akan terdiam dengan sendirinya.

“Terserah” seperti dua sisi uang logam. Ia dapat bermakna positif dan juga negatif. Menjadi negatif jika dilekatkan dengan arti putus asa, menyerah, puncak dari kelelahan atas suatu usaha. Namun, ia juga menjadi positif, jika dilekatkan pada urusan tidak peduli pada sebuah rintangan. Sebesar apa pun hambatan, jika kita katakan “terserah, karena aku akan terus berjalan”, maka kata-kata itu akan menjadi penguat bagi diri sendiri.

Mari katakan “terserah” pada kicau-kicau tidak penting tentang diri, usaha, kerja keras kita. Selama yang kita lakukan tidak mengganggu siapa pun, dan bernilai positif.

Peduli bukan berarti mencampuri. Jika sudah banyak mencampuri, maka hilanglah arti peduli yang sesungguhnya

Asri

Nubar-Nulis Bareng/Asri Susila Ningrum