TERSERAH KALIAN SAJA!

Terserah Kalian Saja!

Tulisan ini terkhusus bagi ibu-ibu yang sedang dirudung kecemasan karena mendengar komentar negatif dari orang-orang disekelilingnya.

“Kok anaknya kurus sih? Asinya kurang tuh.”
“Kok dikasih susu formula sih? Ngga keluar ya asinya, kasihan ya.”
“Kok sampai sakit sih? Ngga bener nih ngurusinnya.”
“Jangan tidur terus, males banget sih mentang-mentang baru lahiran.”
“Kalau operasi, rasanya belum sempurna deh jadi ibu.”

Dan masih banyak lagi sindiran tertuju pada ibu-ibu yang baru punya bayi.

Lidah diciptakan tak bertulang sehingga ia mudah digerakkan mengeluarkan banyak kata. Namun, hati tak dikuatkan iman dan ilmu maka lidah turut mencerminkan perilakunya melalui kata-kata buruk.

Ingatlah suatu hadist yang mengingatkan untuk “berkatalah yang baik atau diam.”

Terserah kalian saja lah para komentator yang budiman. Para ibu yang baru melahirkan sudah cukup penat dan lelah mengurus bayinya. Apalagi si ibu ini baru pertama kali memiliki anak. Pengalaman yang seharusnya dibangun dengan penuh ketenangan jadi runyam karena ulah lidah-lidah pedas.

Terserah kalian saja lah yang merasa paling benar menjalani kehidupan di dunia ini. Komentar pedas yang kalian utarakan sungguh menyakitkan. Tahukah bahwa menjadi seorang ibu itu butuh perjuangan dan proses panjang, ia sudah merasa sangat bersalah jika melakukan kesalahan bahkan tanpa perlu disalahkan.

Bisakah komentar negatif itu diubah menjadi kalimat dukungan atau doa sebagai bentuk rasa empati?

Bagi yang masih mendengar komentar negatif harus bisa belajar bersikap “bodo amat”. Ibulah yang tahu kondisi anaknya dan kondisi dirinya sendiri. Fokus!

Tak perlu menjawab atau berusaha menjelaskan komentar-komentar itu, cukup senyumin saja sambil istighfar dalam hati. Jika merasa bingung tanyakan pada ahlinya misalnya dokter anak, psikolog, dan lainnya. Cari lingkaran yang berisi orang-orang positif dan menginspirasi. Kuatkan ikatan dengan keluarga terkhusus suami karena anak adalah tanggung jawab orang tua, artinya bukan hanya ibu saja tetapi ayah juga turut serta.

Yang terpenting, jangan sampai kita menjadi salah satu bagian dari lidah-lidah jahat itu. Ucapkanlah yang baik karena terlalu banyak kata-kata baik yang luput untuk diucapkan.

Nulisbareng/ibunyanajma

Sumber gambar: jeda.id