Terserah, Enggak Boleh Buat Anak-anak

Terserah, Enggak Boleh Buat Anak-anak

terserah
Terserah, Enggak Boleh Buat Anak-anak

Assalamualaikum sobat web nulis bareng rumedia, semoga semuanya dalam keadaan sehat dan bahagia ya, aamiin.

Saat diberikan kata kunci terserah untuk tantangan selanjutnya, saya ngeblank mau nulis apa. Jadilah saya mencari inspirasi dan menimbang-nimbang hendak menulis apa. Setelah ada ide, malah pengen nulis banyak dengan kata terserah, hehehe.

Kali ini, saya ingin menceritakan tentang seseorang yang selalu menjadi panutan saya dalam menjalankan kehidupan ini, beliau adalah Bapak Kananto, papa saya tercinta. Bagi saya papa adalah orang yang paling hebat sedunia hingga detik ini. Kalau kata orang, ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Bisa jadi, istilah itu benar buat saya.

Papa itu tidak banyak omong, tapi lebih banyak memberikan contoh langsung dengan perbuatan. Bila menyuruh saya salat, pasti beliau sudah salat lebih dahulu. Jika beliau menyuruh anaknya tidak berbohong, maka papa saya selalu berkata jujur apa adanya, sekalipun itu menyakitkan.

Salah satu prinsip beliau yang sangat teguh beliau pegang di kala mendidik saya adalah tidak ada kata terserah untuk anak. Apa itu maksudnya? Sebab, saya istimewa. Saya anak tunggal dan cucu perempuan satu-satunya, baik dari keluarga papa maupun mama. Jadilah saya spesial. Itulah alasan papa tidak bisa terserah untuk saya.

Bagi papa, saya adalah aset akhiratnya. Bagaimana nantinya saya bisa menjadi tabungan amal di kala beliau tiada. Jadilah papa sangat keras kalau soal agama pada saya. Selain karena investasi akhirat, ada 3 alasan lagi mengapa papa tidak bisa terserah buat anaknya,

1. Anak itu cerminan orang tua

anak cerminan orang tua
Anak cerminan orang tua

Papa selalu mengatakan dengan percaya diri dan bangga, kalau saya itu sikapnya mirip seperti beliau. Beliau berani bilang kalau sikap saya baik dan jeleknya ya, mirip papa. Sebab beliaulah yang bertanggung jawab terhadap pendidikan karakter saya.

Papa sadar betul kalau beliau bukanlah orang yang sempurna, tak luput dari kesalahan. Justru karena masa muda beliau yang katanya terlalu banyak melakukan kesalahan, dia tak ingin putrinya melakukan hal yang sama. Makanya papa tidak bisa terserah untuk saya.

2. Seleksi teman anak

selektif memilih teman
Seleksi teman anak

Papa paling ketat soal masalah pergaulan anaknya. Papa selalu bilang, “Teman-teman itu biasanya serupa. Jadi pilihlah teman yang baik dan bisa membawamu jadi lebih baik lagi.”

Karena masa muda beliau yang bandel, jadilah dia tak ingin putri semata wayangnya ini juga salah memilih teman. Jadilah beliau selektif dalam menyeleksi teman-teman saya. Bahkan, beliau harus punya nomor telepon rumah teman saya. Jadi, kalau saya izin main, papa akan mengecek kebenaran keberadaan saya di rumah teman tersebut.

Karena ketatnya seleksi tersebut, kadang saya jadi malu kalau bawa teman main ke rumah. Abis pertanyaan papa, ngalahin interogasi polisi ke tersangka kejahatan. Soal teman, papa tidak bisa terserah ke saya.

3. Menikah itu untuk seumur hidup, meraih kebahagiaan dunia dan akhirat

menikah seumur hidup
Menikah itu untuk seumur hidup, meraih kebahagiaan dunia dan akhirat

Nah, jodoh juga salah satu yang papa enggak bisa terserah. Secara saya anak tunggal, untuk masalah ini benar-benar ketat. Masih ingat banget, waktu saya kasih undangan nikah ke bos kantor dulu, atasan saya itu kaget. Dia bertanya, “Lah, emang situ punya pacar? Bukannya dianter jemput sama papanya mulu?”

Jika teringat tentang itu, saya langsung otomatis tertawa terbahak-bahak. Memang saya itu sering dianter jemput sama papa. Apalagi kalau saya sudah pulang malang, otomatis papa yang jemput, deh.

Jadilah, saya terkenal anak papa, hehehe. Makanya kalau ada laki-laki yang mau mendekati papa akan mengajukan berjuta-juta pertanyaan dan menilai banyak hal. Buat papa, pernikahan itu kalau bisa sekali seumur hidup dan belajar bersama meraih kebahagiaan dunia serta akhirat.

“Nak, Menikah itu untuk seumur hidup, meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Jadi, pilihlah lelaki yang baik iman dan akhlaknya,” pesan papa.

Makanya kalau urusan jodoh, papa enggak bisa terserah. Jadi, sebelum mengenalkan ke papa, biasanya saya sudah membuat list seleksi terlebih dahulu. Kalau ada cowok yang mendekati, maka saya gunakan list tersebut. Kalau dia cukup memenuhi syarat barulah saya bawa ke rumah untuk main.

Itulah 3 alasan papa enggak bisa bilang terserah ke anaknya. Dulu, mungkin saya merasa perlakuan papa itu over protective, tapi semenjak saya jadi orang tua, saya akhirnya paham kalau terserah enggak boleh buat anak-anak.

Nubar-Nulis-Bareng/Lithaetr