TERNYATA AKU di-BULLY

Kenangan di saat Meta masih mengenakan seragam merah putih terlintas, ketika ia melewati sekolahnya dulu. Tempat di mana ia menimba ilmu, tempat dimana seharusnya mempunyai banyak teman, berinteraksi dengan teman sebayanya sebagaimana layaknya anak-anak, bercanda dan tertawa bersama. Sekelebat bayangan hitam, tiba-tiba lewat tanpa permisi, terhenti di depan wajah ayunya. Sungguh tiba-tiba. Potongan-potongan kejadian yang bagaikan puzzle, langsung tertata rapi tanpa harus di cari.
Meta membetulkan hijab panjangnya, sambil sesekali menggeser duduknya, mencari posisi ternyaman, ia teringat “luka hatinya” dulu.
Senyum Meta penuh arti, tak kentara ia sedang bersedih untuk sepersekian detik.

FLASH BACK***

“ Hei .. kamu ngapain Ta duduk di sini! ”
“ Kenapa? Gak boleh? ” Meta membalas dengan nada keheranan.
“ Ihh, sebel ada kamu, temen-temen yuk kita pindah aja, jangan sama Meta, gak asik main sama dia ” Ratna mengajak teman lainnya untuk menjauhi Meta.

“ Meta, kamu kok item sih? Mana jelek lagi.”
Padahal parasnya manis, kulit sawo matang, murah senyum, dan pintar. Meta memilih diam, lalu pergi. Bukan ia tak berani, ia malas menanggapi.
“ Meta, kamu jangan sekelompok sama aku deh, cari aja yang lain.”
“ Meta, kamu ikut lomba lagi? Ngapain sih kamu terus yang terpilih.”
Dan masih banyak perisakan lainnya secara fisik dan verbal, namun ajaibnya Tuhan ciptakan hatinya bagaikan malaikat kecil.
Sebenarnya Meta termasuk tipe anak-anak yang mudah bergaul, ceria, periang dan selalu bisa menempatkan diri pada segala situasi. Tapi entah mengapa teman-temannya tak suka bermain dengannya.

Entah mengapa…

Bersambung**

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu