TERNYATA AKU di-BULLY

Bagian 03

Untungnya Meta punya segudang prestasi, yang mana sebagai penghibur duka lara di hatinya.

Meta hanya bisa mendesah pelan mengingat potongan-potongan kejadian kala itu. Sungguh Meta telah memaafkan. Melupakan dan mengikhlaskan. Tak mau lagi Meta mengingat “luka” itu. Biarlah menjadi bagian cerita hidupnya.

Back to Meta adult***

“Bu, maaf kita sudah sampai di pemberhentian terakhir, ini sudah sampai terminal Bu” kondektur bus itu menepuk bahuku pelan.
“Ah iya maaf pak, terima kasih. ”
“Hujan begini memang enak buat ngelamun ya Bu ”canda kondektur memecah kekagetan Meta.
“Tapi jangan sering-sering Bu, nanti cantiknya hilang” senyum kondektur itu mengembang.

Meta hanya tersenyum simpul, ia tak tahu harus berkata apa. Bagaikan cenayang saja kondektur ini, tahu penumpangnya sedang melamun.

Perjalanan Meta di kota Kembang berakhirlah sudah, ia segera menuju kota selanjutnya, untuk segera pulang.
Ia tinggalkan segala kenangan menyedihkan, ia sudah putuskan untuk memaafkan semua kesalahan teman-teman masa sekolahnya.
Meta berbisik lirih “Maafkan aku yang tak bisa menjadi teman ideal di mata kalian.”
Kenangan 20 tahun silam yang masih membekas, yang ter’cap dengan kuat dihatinya, kini kabar baiknya Meta sudah memaafkan semua yang terjadi. Dulu ia tak paham apa itu bullying, yang ia tahu teman-temannya kadang tak menyukainya, tak mau berteman dengannya.
Stop bullying your friends. Karena luka itu akan membekas sampai ia dewasa. Seperti kayu yang tertancap paku, meski tercabut sudah, pasti akan membekas.

Tahukan kalian? dampak buruk yang ditimbulkan dari bullying ini sangatlah besar, mulai dari keterpurukan, kehilangan rasa percaya diri, depresi, stress hingga sampai keinginan bunuh diri. Hal ini tentu saja akan menjadi luka yang mendalam bagi para korban. Jadi wajar, apabila beberapa dari korban bullying tersebut merasa sakit hati dan dendam kepada para pelaku.

Dihina, diejek, dicemooh, disindir, hingga pada mengarah kekerasan fisik. Tindakan bullying ini akan selalu membayangi hidup si korban, hingga akhir hayat mereka.

Meta sudah meninggalkan “luka” itu. Dibiarkannya hanyut, bersama derasnya rinai hujan.

SELESAI.

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu