TERNYATA AKU di-BULLY

Bagian 02

Sebenarnya Meta termasuk tipe anak-anak yang mudah bergaul, ceria, periang dan selalu bisa menempatkan diri pada segala situasi. Tapi entah mengapa teman-temannya tak suka bermain dengannya.

Entah mengapa…


Hati Meta seketika berubah, sedih dan kecewa. Apa salahnya hingga ia dijauhi temannya, andai teman-temannya tahu betapa terlukanya hati Meta, teriris oleh kata, tercabik oleh sikap mereka.

Mungkin hanya satu teman yang tak suka , ya hanya satu, namun Ratna bisa mempengaruhi teman lainnya, apalah daya.

Sebenarnya Meta bukan berasal dari keluarga yang serba kekurangan,bisa dikatakan lebih dari cukup. Namun penampilan Meta memang tak seperti teman-temannya, ia anak yang cuek terhadap penampilan, tidak seperti anak perempuan lainnya yang suka di kuncir rambutnya, pakai pita dan aksesoris lainnya.
Meta memang anak yang tomboi, yang tak terlalu ambil pusing tentang penampilan. Sedari kecil ia lebih nyaman menggunakan kaos oblong khas baju bermain anak laki-laki. Satu-satunya rok yang ia punya, adalah seragam sekolah.

Di sekolah mereka mendekati Meta, hanya di kala butuh bantuan pelajaran, setelahnya mereka menjauh. Bukan Meta tak tahu, bukan pula tak sadar, tapi ia biarkan teman-temannya melakukan hal itu.


Andai kala itu orangtuanya bisa meluangkan sedikit waktu. Orang tua Meta terlalu sibuk bekerja, sehingga terkadang ia “terlalu sangat mandiri”. Kadang tak tahu kalau anaknya ingin sekali bercerita tentang keadaan di sekolah, bercerita tentang pelajaran di sekolah, bercerita bagaimana ia tuntas mengerjakan soal-soal yang di berikan guru.

Namun Meta tak dapat menyalahkan orang tuanya, karena mereka bekerja juga untuk Meta, demi kebahagiaannya. Di usianya yang ke 10 tahun Meta sudah paham betul kesibukan orangtuanya.

Meta mengusap lembut wajah sayu nya, dadanya terasa berat kala mengingat “luka” itu.
Di jauhi teman, di dekati hanya ketika dibutuhkan, di olok-olok, di ejek tentang penampilan nya, yang mana sampai saat ini Meta tak tahu pasti penyebabnya.

Terkadang Meta kecil menangis seorang diri. Sedih yang teramat, karena ia hampir tak punya teman bermain di sekolahnya. Namun Meta kecil pandai menyembunyikan raut kesedihannya. Untungnya Meta punya segudang prestasi, yang mana sebagai penghibur duka lara di hatinya.

Bersambung***

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu