TERJEBAK RASA

TERJEBAK RASA

Hidup ini terus berjalan. Biarkan ia mengalir mengikuti hukum alam yang sudah ditentukan-Nya. Jangan terjebak dengan sebuah rasa yang akan mencuri kebahagiaanmu.

Sungguh, menyimpan dendam dan benci itu melelahkan jiwa. Membawa rasa marah dalam detik waktumu yang berharga sungguh membuat rugi.

Wajar dan manusiawi jika kita merasa kecewa dan marah dengan sesuatu yang mengusik jiwa apalagi jika yang melakukan hal itu adalah orang terdekat kita.

Sungguh, seandainya hati bisa terlihat dengan kasat mata, mungkin akan terlihat bagaimana ia kesakitan saat tercabik-cabik oleh rasa kecewa apalagi merasa dikhianati. Bisa jadi darahnya akan mengalir begitu deras.

Ada sebuah cerita berdasarkan kisah nyata, namun namanya tidak saya sebutkan demi menjaga nama baik beliau. Suatu hari tiba-tiba ada seseorang yang tidak ia kenal mengirimkan sebuah foto, di dalam foto itu terlihat suaminya sedang duduk dan sedang berswafoto dengan beberapa orang yang salah satunya orang yang sangat ia cemburui.

Jika saja posisi duduk sang suami terjaga jarak dengan perempuan yang sangat tidak ia sukai, mungkin ia tidak akan terpancing emosi dan kemarahan tidak akan meledak dalam hatinya.

Namun, fakta di foto itu menunjukkan, sang suami duduknya pun sangat dekat tak berjarak dengan senyum sumringah si perempuan yang ia “benci” karena sempat mengusik kebahagiaan rumah tangganya itu.

Apa yang kalian rasakan jika berada dalam posisi sahabat saya ini? Marah? Tentu saja. Sahabat saya pun sangat marah, jika dia tidak bisa menahan emosi bisa saja terjadi kembali percekcokan antara dia dan suaminya. Karena setiap membahas masalah perempuan itu selalu saja berujung tidak baik. Ia tidak ingin lagi bertanya kepada sang suami daripada endingnya nanti jadi kurang baik.

Entah siapa yang mengirimkan gambar itu dan entah untuk tujuan apa tiba-tiba mengirimkan foto ke pesan pribadi instagramnya, namun Ia seolah mendapatkan fakta jika di belakangnya sang suami yang sangat ia percaya ternyata bisa bersikap begitu cair termasuk dengan perempuan itu. Perempuan yang sudah jelas-jelas masuk daftar hitam dari hidupnya.

Hanya yang membuat salut, dia bisa meredam marahnya itu. Dia pendam sendiri eh nggak deng, dia melepaskan emosinya dengan curhat kepada saya. Namun setelah mengeluarkan unek-uneknya itu, ia kembali tersenyum ceria seolah-olah tidak ada beban berat sebelumnya.

Satu hal yang saya pelajari adalah bagaimana sikap sahabat saya ini tetap menjaga kewarasannya. Ia tidak mau terjebak dengan rasa marah, kecewa, bahkan benci. Ia meluaskan maaf dan berusaha melupakan kesalahan yang sudah dilakukan oleh suaminya. Walaupun tetap secara batin, ia tidak menerima jika terjadi pengkhianatan walau sekecil apa pun.

Tentu saja banyak kisah lain dari orang-orang hebat yang berani keluar dan melepaskan diri dari jebakan rasa yang menggerogoti rasa bahagia.

Oleh sebab itu, saya mendapatkan ide untuk membuat sebuah tulisan hikmah bagaimana perjuangan seseorang keluar dari rasa yang menjebak dalam sebuah event menulis antologi.

Cek info detail event-nya di bawah ini ya!

Judul: TerJebak Rasa

Tema: Bagaimana mengeluarkan diri dari jeratan dan jebakan rasa yang tak biasa

📝Maksud dan tujuan dari judul dan tema:
Ada kalanya kita terjebak dalam rasa sedih yang terlalu mendalam, cemburu buta, bahagia yang berlebihan, kepo akut, putus asa, frustasi, marah pada diri sendiri maupun orang lain. Bagaimana kita melepaskan diri dari jebakan tersebut? Yuk, tuliskan dalam event antologi terbaru bersama Nubar – Nulis Bareng.

Jenis tulisan: bunga rampai (antologi), fiksi, faksi (fiksi based on true story), perjalanan hidup, pengalaman hidup, kisah hikmah

DL : 25 November 2020
Pj: Wina/085228511403

NuBar area Jawa Barat
NuBar – Nulis Bareng
Penerbit Rumedia